Perubahan Aleisha

3

 

Belakangan ini working mom versus stay at home mom ngeheitz lagi. Padahal menurut saya itu lagu lama. Ya, mau dibahas dari segi mana pun, tidak akan ada titik temunya. Karena masing-masing memiliki alasan.

Ah, tidak. Di sini saya tidak ingin membahasnya. Sudah banyak kok yang menulis artikel untuk menghargai ibu  bekerja. Tapi saya ingin cerita tentang perubahan Aleisha pasca saya resign. Gara-garanya saya tergelitik membaca postingan di kompasiana tentang ibu bekerja.

Blogger tersebut menuliskan bahwa anak sebenarnya menyesuaikan kondisi  ibunya. Anak yang ibunya bekerja, suka bangun pagi. Supaya bisa say hello dengan sang ibu. Pun ketika malam. Setia menunggu ibunya pulang, meski hanya menyapa beberapa menit. Lalu terlelap tidur.

Kebalikannya, anak yang ibunya di rumah, mungkin lebih suka bangun agak terlambat. Seolah memberi waktu kepada ibunya untuk berbenah.

Entahlah, tapi kepala saya otomatis mengangguk. Ya, terlihat banyak sekali perubahan Aleisha antara ketika saya bekerja dan sesudah resign.

 

Dulu…

Aleisha selalu bangun pagi. Kadang tidak lama dari adzan Subuh, dia sudah bangun. Aleisha tidak pernah  melewatkan satu kali pun cium tangan sebelum saya berangkat kerja.

Sekarang…

Kepluk! Bangunnya siang terus. Paling cepet jam setengah tujuh.

 

Dulu…

Kata eyangnya, Aleisha gampang makan. Sayang saya kurang sreg dengan cara eyangnya menyuapi. Karena dibohongi dan ditakut-takuti.

Sekarang…

Ampun deh. Susah banget makannya. Bisa makan cepet kalau nonton Masha di henpon. Tapi tetep kan nggak boleh dibiasakan juga. Atau mungkin karena saya tidak membohongi atau menaku-nakuti? Kalau memang alasannya itu, berarti saya yang harus lebih sabar dan telaten.

 

Dulu…

Pagi-pagi Aleisha udah mandi. Soalnya kan bangunnya juga pagi.

Sekarang…

Kalau diajak mandi, banyak banget alasannya. Mau mandi harus bareng emaknya. Waduh kan dari kecil harus sudah diajari menutup aurat, meski ibu dan anak sama-sama perempuan.

 

Dulu…

“Cica, Bunda kerja dulu ya.”

“Iya. Hati-hati, Unda.”

Sekarang…

“Unda ndak boleh kerja. Di rumah aja sama Cica.”

Dan setiap saya keluar rumah walau sebentar, nangisnya kayak orang digebukin. Kemana-mana mau ngikut terus.

 

Dulu…

Baca buku sebelum tidur.

Sekarang…

Baca bukunya nggak cuma sebelum tidur. Pagi, siang, sore, malam kalau minta dibacain buku, nggak boleh ditolak. Atau dia akan ngambek.

 

Dan… masih banyak lagi perubahan Aleisha. Intinya, menurut saya, anak itu selalu menyesuaikan kondisi ibunya. Ketika saya masih working mom, Aleisha begitu mandiri. Mungkin dia tahu, bundanya capek. Jadi tidak ingin menyusahkan. Iya, Aleisha itu bener-bener nggak pernah nyusahin sewaktu saya kerja. Nah, begitu bundanya berhenti kerja, nyusahin melulu *hahaha. Manjanya itu lho, nggak ketulungan. Apa-apa mau sama bundanya. Ditinggal dikit, nggak mau.

But, whatever you are my daughter, i always love you so much.

6 thoughts on “Perubahan Aleisha

  1. Asik donk cintanya gak bertepuk sebelah tangan. Lha daripada Ayik sdh resign, eh ternyata Cica ttp main & makan sama org lain. Apa ngga ‘sakitnya tu di sini’ hahaa

Leave a Reply to @AstriHapsari_ | Astri Hapsari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 3 = six