[REPORTASE] Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Masyarakat

Astri Hapsari | @AstriHapsari_

Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah kerusakan kehidupan generasi muda yang perlahan tetapi pasti, karena Narkoba.

Begitulah kalimat pembuka dalam slide ‘Sosialisasi & Perumusan Rekomendasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Masyarakat’ yang disampaikan oleh Prof. Paulina  G. Padmohoedojo, M.A., MPH dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Yak, benar sekali. Akhir-akhir ini masalah narkoba memang sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan UNODC, Indonesia menempati urutan pertama jumlah tersangka narkoba di ASEAN. Pada tahun 2003 jumlahnya 2,56% atau empat juta lebih. Dan 90% dari kelompok coba pakai narkoba adalah pelajar. Glek! Ngeri banget kan. Padahal ketika Prof. Paulina pertama datang ke Indonesia tahun 1980, beliau bilang hampir tidak ada kerjaan. Artinya apa? Di tahun itu jumlah penyalahgunaan narkoba sangat sedikit.

Prof. Paulina  G. Padmohoedojo, M.A., MPH

Prof. Paulina G. Padmohoedojo, M.A., MPH

Diakui juga oleh Prof. Paulina, narkoba memang sangat sulit dihilangkan. Beliau pun menyusun rumusan kebijakan untuk pencegahan narkoba yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu:

Strategi penurunan pasokan. Untuk menurunkan supply, diperlukan kerjasama dengan aparat polisi untuk melakukan pengawasan dan kontrol.

Strategi penurunan permintaan. Dilakukan dengan melakukan pencegahan dan terapi melalui pemberdayaan masyarat.

Strategi mengurangi dampak negatif kesehatan dan sosial dari penyalahgunaan narkoba. Diperlukan terapi dan rehabilitasi.

Kemudian tujuan utama pencegahan penyalahgunaan Narkoba adalah

  • Membantu  setiap orang, terutama anak-anak dan pemuda, untuk menghindari atau menunda permulaan penyalahgunaan, atau
  • Kalau sudah pengguna, berusaha untuk berhenti; dan
  • Menghindari munculnya penyakit atau masalah, menjadi ketergantungan atau adiksi.

Namun, tujuan pencegahan jauh lebih luas yaitu untuk memastikan perkembangan anak-anak berlangsung secara sehat  dan aman, agar dapat mewujudkan  bakat dan potensi mereka dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Selama ini, upaya pencegahan hanya dilakukan dengan penyuluhan tanpa kegiatan lain yang mendukung pencegahan narkoba. Hal tersebut diakui oleh UNODC sebagai upaya yang sia-sia. Karena itu, upaya untuk pencegahan narkoba, dikembalikan kepada masyarakat. Yup, pencegahan narkoba berbasis masyarakat. Seperti kata pepatah, it takes a whole village to educate child. Siapa sajakah yang harus terlibat dalam pencegahan narkoba berbasis masyarakat? Keluarga, kelompok masyarakat, sekolah/kampus, tempat kerja, tokoh masyarakat dan agama, LSM, Orsos, Ormas, Polres, Polsek, Puskesmas, Posyandu, Media, dan BNNK.

Sumber gambar: jakarta.go.id

Sumber gambar: jakarta.go.id

Penyebab lain mengapa pencegahan narkoba belum berhasil adalah penggunaan iklan yang menyeramkan atau menakut-nakuti. Menurut Prof. Paulina, “Mengancam dan menunjukkan gambar yang menyeramkan tidak berhasil untuk mengurangi keinginan seseorang untuk menyalahgunakan narkoba. Orang cenderung untuk menolak atau mengingkari pesan negatif.” Kemudian iklan dengan kesan sensasi, dramatis, atau sesuatu yang ‘asyik dan keren’ penggunaan narkoba juga perlu dihindari, karena memberikan kesan menyenangkan. Satu lagi yang perlu dihindari dalam iklan pencegahan narkoba adalah gambar atau ilustrasi yang  dapat mengajarkan orang cara memperoleh, menyiapkan dan  menggunakannya.

Jadi, Prof. Paulina menyarankan untuk menggunakan pesan-pesan positif dalam iklan atau kampanye pencegahan narkoba. Contohnya seperti di bawah ini.

Sumber gambar: bnnp-diy.com

Sumber gambar: bnnp-diy.com

 

Sumber gambar: baliprov.go.id

Sumber gambar: baliprov.go.id

Pembicara berikutnya, Dr. Antar Merau Tugus Santuri, AK, MBA., dari Deputi Pencegahan BNN menyampaikan bahwa pencandu narkoba wajib menjalani rehabilitasi selama tiga hingga bulan.

Dr. Antar Merau Tugus Santuri, AK, MBA

Dr. Antar Merau Tugus Santuri, AK, MBA

Jadi jika seorang pecandu narkoba tertangkap, seharusnya segera dikirim ke rehabilitasi, bukan di penjara. Berkaca dari negara-negara maju yang memiliki banyak tempat rehabilitasi, sehingga dapat menyelamatkan pecandu dari ketergantungan. Strategi pencegahan narkoba yang disampaikan oleh Dr. Antar adalah yang berbasis ilmu pengetahuan. Kerja sama pencegahan narkoba dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat (komunitas) untuk mengembangkan program pencegahan yang menekankan pada aspek edukasi, dapat memastikan anak-anak dan pemuda, khususnya di daerah tertinggal dan miskin dapat tumbuh, tetap sehat dan aman dari pengaruh penyalahgunaan narkoba hingga mereka beranjak menjadi remaja dan dewasa.

Catatan bagi orang tua yang mengetahui anaknya sebagai pengguna narkoba, segera laporkan ke Puskesmas atau RSUD terdekat supaya mendapatkan obat sebagai pertolongan awal. Jika ternyata anak sudah sampai pada taraf pecandu, maka akan dirujuk ke pusat rehabilitasi. Apabila orang tua tidak melapor dapat dikenakan sanksi ancaman hukuman enam bulan.

 

 

 

4 thoughts on “[REPORTASE] Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Masyarakat

Leave a Reply to Ani Berta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× six = 30