[RESOLUSI JUARA] FULL TIME MOTHER YANG MANDIRI FINANSIAL

“Menjadi seorang ibu adalah anugerah.”

 

Ya, itulah impian bagi sebagian besar perempuan yang telah menikah. Be a mother. Kebahagiaan yang juga tengah saya rasakan. Menanti kelahiran buah hati. Namun terkadang rasa khawatir menyelinap di antara luapan bahagia. Saya khawatir tak bisa merawat amanah Allah dengan tangan saya sendiri. Padahal kedua tangan inilah yang setiap akhir malam meminta padaNya sesosok mungil sebagai penyejuk hati.

Saya bekerja di sebuah perbankan syariah. Jarak rumah dan tempat kerja membuat saya harus berangkat pukul 06.00 dan sampai di rumah ketika adzan Maghrib berkumandang. Lebih dari 12 jam saya meninggalkan rumah. Bagaimana bila nanti si kecil sudah lahir? Akankah saya tega meninggalkannya dengan pengasuh. Mungkin pengasuh bisa merawatnya. Menjalankan instruksi yang saya berikan. Namun bagaimana dengan pendidikan si kecil? Rasanya percuma saya melahap banyak buku parenting jika 12 jam dalam lima hari si kecil berada di tangan orang lain. Ia berada di tangan saya saat sudah tidur. Atau di akhir pekan yang hanya dua hari. Sungguh saya tidak ingin melewatkan fase-fase golden age. Saya ingin menjadi orang pertama yang melihatnya tengkurap, duduk, dan berjalan. Bahkan ketika ia mengucapkan kata pertamanya yang terdengar adalah ‘mommy’.

 

Maka di awal kehamilan, saya sering melontarkan keinginan untuk resign kepada suami. Namun sepertinya suami saya keberatan.

 

“Kamu nanti mau ngapain di rumah aja? Kakak gak mau lho kamu ngeluh bosan.”

 

Ya, saya tahu. Selama ini saya terbiasa bekerja. Pasti nantinya ritme biologisnya saya akan berubah. Saya sering membaca, ibu rumah tangga terkadang jenuh dengan rutinitas di rumah. Akibatnya sang ibu bisa depresi dan anak yang menjadi pelampiasannya. Oh no! Tentu saya tidak akan berdiam diri saja hanya berkutat dengan urusan rumah tangga.

 

“Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau cuma di rumah aja.”

 

Selentingan seperti itu sering sekali saya dengar. Tapi bagi saya, menjadi ibu rumah tangga bila perlu memiliki gelar Ph.D. Mengapa? Harapannya, saya dapat terus mendampingi anak-anak sampai perguruan tinggi. Ketika ia membutuhkan teman untuk diskusi tentang studinya, berita-berita terkini, atau masa depannya, maka orang pertama yang dicari adalah ibunya. Saya ingat waktu pertama kali mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Saya menangis karena tidak dapat mengerjakan tugas. Ibu saya pun tidak bisa membantu karena tidak bisa Bahasa Inggris. Saya tidak mau seperti itu.

 

“Yakin jadi ibu rumah tangga aja? Mending kerja. Punya uang sendiri.”

 

Pertimbangan lainnya jika ingin berhenti kerja adalah pendapatan keluarga. Sudah tentu pendapatan keluarga akan berkurang karena selama ini ada dua pemasukan. Saya sudah memikirkannya. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak memiliki penghasilan. Banyak ibu rumah tangga yang mandiri finansial.

 

Saya pun memikirkan kedua hal tersebut. Keuangan keluarga dan pengembangan diri. Untuk keuangan keluarga, saya sedang mempersiapkan sebuah bisnis yang bisa dikerjakan di rumah saja. Bisnis online. Ya, dengan online, saya tidak perlu ke kantor. Namun saya juga paham, pelaku bisnis online saat ini sudah membludak. Maka saya pun harus kreatif. Ketika tidak menjadi yang pertama, saya harus jadi yang berbeda.

 

Lalu untuk pengembangan diri, saya memilih menulis. Dulu saya pernah terjun ke dunia kepenulisan saat bekerja di sebuah majalah anak-anak. Saya pun membangun blog pribadi sebagai ruang untuk berekspresi di dunia maya. Sayang blog yang harusnya tahun 2012 berusia tiga tahun harus ‘pergi’. Yup, saya teledor memilih web hosting. Saya pun mulai membangun lagi blog baru. Memilih dengan cermat web hosting yang tidak akan membuat blog saya hilang. Apakah saya hanya akan menulis di blog saja? Tidak! Beberapa cerita anak yang saya tulis, dimuat di majalah anak-anak. Semua penulis tentu tahu perjuangan menembus media. Puluhan bahkan ratusan naskah dikirim, hanya satu atau dua yang berhasil dimuat. Karena itulah, saya ingin belajar menulis lagi. Training atau pelatihan menulis online menjadi pilihan saya. Bagi saya, training online lebih fleksibel dari segi waktu, tempat, dan biaya. Walaupun beberapa workshop menulis tetap saya ikuti secara offline. Saya ingin seperti mereka-mereka yang mampu membuat buku berkualitas. Bahkan bukan mereka yang mencari penerbit. Tapi penerbitlah yang justru meminta para penulis itu menuliskan buku untuk diterbitkan. Wow! That’s really cool.

 

Menjalankan bisnis online dan mengikuti training kepenulisan online sudah pasti membutuhkan teknologi internet. Sayangnya, koneksi internet menggunakan modem di rumah saya sangat lambat. Saya berencana untuk berlangganan Telkom Speedy yang kecepatannya tidak diragukan lagi. Sebenarnya sudah ada line telepon. Namun lebih dari enam bulan tidak saya bayar abonemennya *hehehe. Jadi saya harus mengurusnya dulu ke Telkom. Dan untuk saat ini, baik saya maupun suami masih terbelenggu rutinitas pekerjaan.

 

Ya, itulah resolusi saya di tahun 2012. Menjadi full time mother yang mandiri finansial dengan menjalankan bisnis online. Juga menjadi penulis untuk mengembangkan diri. Yeah, I’m working at home mommy and great writer. Insya Allah. Mohon doanya.

 

 

 

6 thoughts on “[RESOLUSI JUARA] FULL TIME MOTHER YANG MANDIRI FINANSIAL

  1. Subhanallah, barakallah semoga kehamilannya lancar. And nular ke yg laen hehehe… Rejeki lancar juga dgn bisnis onlen nya. Mmmmuach 😉

  2. Good Luck Ay Ay

    You can do, I know.

    Re-solusi : mencari solusi dan mewujudkan agar apa yang belum jadi kenyataan di tahun sebelumnya bisa tercapai di tahun yang sedang dijalani

  3. Setuju mba Astri, saya jg sedang mempersiapkan usaha sendiri untuk bersiap2 jadi full mother, jadi seorang ibu rumah tangga bukan berarti ilmu waktu kuliah itu ga akan terpakai, kita akan banyak membuka pengetahuan kita kan kalau kita kuliah sampai S1, S2 bahkan S3. Semangat mba Astri 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight × 5 =