Sah!

Sah?

Sah!

Alhamdulillah!

Alhamdulillah, akhirnya aku resmi menjadi istri Mas Pras. Laki-laki yang aku kenal sejak kecil.

“Kenapa kamu menerima lamaran, Pras?” tanya seorang sahabatku.

“Karena Mas Pras bisa menerimaku apa adanya.”

Ya, alasan karena alasan itulah aku menerima lamaran Mas Pras. Sebagai seorang wanita, aku sudah tidak sempurna. Aku tidak punya lagi mahkota terindah yang khusus dipersembahkan hanya untuk suami di malam pertama. Seseorang telah merenggutnya saat usiaku baru menginjak 10 tahun. Ah sudahlah. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Kejadian yang sangat menyakitkan.

Ketika aku menceritakannya pada Mas Pras di malam ia meminangku, Mas Pras tersenyum tulus.

“Biarlah itu terkubur bersama masa lalu, Kintan. Toh bukan salahmu. Aku menerimamu apa adanya.” Aku benar-benar lega mendengar perkataan Mas Pras.

 

Sekarang Mas Pras telah sah menjadi suamiku. Setelah aku mencium tangannya, Mas Pras bersiap mencium keningku. Tapi sesuatu mengejutkanku. Di telinga Mas Pras ada sebuah luka mirip bekas gigitan. Selama ini aku tidak pernah melihatnya. Tertutup rambut gondrong Mas Pras.

 

Plak!

Aku menampar pipi Mas Pras. Kontan semua tamu terkejut. Wajah Mas Pras memerah. Lalu aku berdiri dan berteriak kalap.

“Batalkan pernikahan ini! Batalkan!”

“Kintan, istighfar. Kamu kenapa, Nak?” Bapak yang masih duduk di dekatku langsung mendekap.

“Kinta gak mau jadi istrinya, Pak! Kintan gak mau!” Aku semakin histeris. “Bapak lihat telinga kanan Mas Pras! Lihat, Pak!”

Bapak kemudian mendekati Mas Pras dan melihat telinga kanannya.

“Hanya luka kecil, Kintan.”

“Luka itu… Luka itu Kintan yang membuatnya, Pak. Waktu Kintan diperkosa. Kintan sempat menggigit orang yang memperkosa Kintan. Dialah bajingan itu, Pak.”

Suaraku melemah. Dan semuanya terasa gelap.

2 thoughts on “Sah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine − 5 =