Satu Cinta


 

Mata yang telah dihiasi keriput itu sedang menatap foto di hadapannya. Tatapan penuh cinta. Sesekali tangannya membelai foto hitam putih yang tampak terawat. Aku pun ikut memandang foto itu. Foto seorang wanita muda. Ia memakai kebaya. Rambutnya disanggul. Senyum merekah di wajah ayunya.

“Ibumu cantik ya, Nduk.” Lelaki yang sejak tadi diam menatap foto di dinding, kini bersuara.

“Eh….” Entah ke mana suaraku. Aku terlalu bahagia. Akhirnya setelah tiga hari, ia mau bicara denganku.

“Ibumu cantik,” ulangnya. “Dan kecantikannya menurun sama kamu, Nduk.”

Aku tersipu. Ibuku memang sangat cantik. Betapa aku bersyukur, kecantikannya menurun padaku.

“Bapak sangat mencintai ibumu.”

Ya, lelaki itu adalah bapakku. Sudah tiga hari ini bapak tak mau bicara denganku. Sepertinya Bapak tersinggung dengan ucapanku.

“Bapak tidak ingin menikah lagi?”

Bapak terkejut mendengar pertanyaanku. Wajahnya pias. Aku menanyakannya tepat di hari ke seribu ibu meninggal. Aku langsung menyesal telah mengucapkannya.

Semuanya bermula ketika ibu meninggal. Aku heran melihat tidak satu pun air mata yang menetes di wajah Bapak. Ia begitu tenang memandikan, menyolati, dan menguburkan ibu. Bahkan setelah itu, bapak tetap ceria bermain dengan cucunya, anak-anakku. Namun belakangan aku tahu, di sepertiga malam terakhir, bapak sering menangis sendiri. Aku sungguh tidak tega melihat bapak yang begitu tegar. Maka aku mengusulkan agar bapak menikah lagi. Supaya bapak ada yang mengurus. Adikku setuju. Tapi bapak hanya terdiam. Lalu satu-persatu air matanya mengalir. Bapak tidak mau bicara padaku. Aku harus menunggu tiga hari agar bapak mau bicara lagi padaku.

“Salahkah bapak bila hanya mencintai ibumu?” tanya bapak masih dengan mata yang menatap foto ibu.

Aku tak mampu menjawab. Tentu saja aku bahagia mengetahui cinta bapak yang begitu besar kepada ibu. Hanya saja….

“Kamu dan adikmu tidak usah mengkhawatirkan Bapak.”

Aku tersentak mendengar ucapan bapak baru saja. Bapak seperti tahu yang aku pikirkan.

“Bapak cuma ingin menghabiskan hidup Bapak bersama kenangan tentang ibumu. Andai Bapak menuruti keinginanmu, itu hanya mengingatkan kalau Bapak pernah menyakiti ibumu.”

Aku tertegun. Bapak pernah menyakiti ibu? Aku tak percaya. Bapak selama ini begitu lembut kepada ibu. Bapak juga sangat mengayomi ibu.

“Bapak ingin bercerita satu hal padamu, Nduk,” kata bapak sambil menarik napas berat. “Dulu Bapak pernah hampir menyakiti ibumu. Ketika ibumu sedang hamil besar, Bapak jatuh cinta lagi. Bapak pun berniat meninggalkan ibumu.”

Badanku terasa seperti terhempas. Tanganku mencari pegangan. Tidak mungkin! Tidak mungkin bapak menyakiti ibu!

“Malam itu bapak berniat menceraikan ibumu.Saat sampai di pintu rumah, Bapak mendengar ibumu berteriak-teriak. Bapak bergegas masuk. Ternyata ibumu sedang berjuang melahirkanmu. Dibantu seorang dukun bayi.” Bapak terdiam sejenak. “Melihat ibumu bertarung antara hidup dan mati, hati Bapak tersentuh. Bapak langsung memutuskan untuk tidak pernah meninggalkan ibumu.”

Aku tak sanggup menahan air mataku. Membayangkan jika bapak benar-benar meninggalkan ibu.

“Ibumu sudah mengorbankan banyak hal untuk Bapak. Dia mau hidup sederhana. Padahal sebelum ketemu Bapak, ibumu hidup dalam kemewahan dari kakekmu.” lanjut bapak.

Ya, aku tahu kakekku kaya raya. Tapi ibu tidak pernah meminta bantuan kakek walau dalam kondisi sulit.

“Berapa pun nafkah yang Bapak kasih, ibumu menerima dengan senyum ikhlasnya. Kadang Bapak heran, bagaimana ibumu mengatur uang dari Bapak. Karena uang itu selalu cukup untuk hidup kita berempat. Bapak, ibumu, kamu, dan adikmu.”

Isakku semakin keras. Membayangkan ibu yang pasti berpikir keras memutar uang pemberian bapak.

“Sekarang Bapak tanya, salah bila Bapak hanya mencintai ibumu?”

Aku tak dapat menahan diri lagi. Aku menubruk bapak. Menangis di dadanya. Meminta maaf berulang-ulang.

“Nduk, dulu Bapak bisa jatuh cinta lagi. Tapi Bapak berpikir. Kebahagiaan Bapak ada di depan mata. Untuk apa Bapak mengejar kebahagiaan yang tidak pasti. Belum tentu wanita itu bisa mencintai Bapak setulus cinta ibumu.”

Bapak tetap menyimpan cintanya kepada ibu. Hingga Allah memanggilnya tepat di tahun kelima ibu meninggal. Aku dan adikku menguburkan bapak di samping ibu.

Bapak, kau telah mengajarkan aku tentang arti satu cinta.

 

One thought on “Satu Cinta

Leave a Reply to ke2nai Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 + six =