[Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga] : Membangun Keluarga Robbani – Ibu Yayah Komariah

Bu Yayah Komariah, memulai pendidikan di rumah untuk anak-anaknya sejak tahun 2004. Tepatnya ketika Bilal, anak pertamanya memasuki usia SD. Namun, saat itu, Bu Yayah belum mengetahui bahwa yang dilakukannya disebut homeschooling. Dari situlah, Bu Yayah kemudian mendirikan Komunitas Homeschooling Berkemas (Berbasis Keluarga Masyarakat).

Ingin lebih mengenalkan agama adalah alasan utama Bu Yayah meng-HS-kan anak-anaknya. Sebenarnya ibu dari 4 putra dan 1 putri ini mulai mengajarkan agama, terlebih tauhid, sejak anak-anaknya berumur 1 – 2 tahun. Caranya cukup mudah. Bu Yayah sering sekali mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Masya Allah kepada anak-anaknya. Bahkan ketika melakukan kegiatan apapun, seperti makan, Bu Yayah selalu melafalkan dengan suara keras. Tujuannya agar anak-anaknya terbiasa mendengar kalimat Allah. Selain itu, Bu Yayah juga mengenalkan tulisan nama Allah sejak anak-anaknya masih bayi. Beliau menulis dalam ukuran besar dan berwarna. “Itu tulisan nama Allah, Nak,” ucap Bu Yayah kepada anak-anaknya. Dan hasilnya, begitu anak-anaknya sudah bisa bicara, kalimat Allah lah yang pertama terucap.

Karena memiliki basic sebagai guru, Bu Yayah memberikan materi pelajaran agama Islam berdasarkan kurikulum SD. Pembelajaran tersebut diberikan terutama saat menjelang tidur. Untuk mengajarkan sholat, Bu Yayah selalu mengajak anak-anaknya sholat bersama. Supaya mereka mengikuti gerakan sholat kedua orang tuanya. Sedangkan puasa, Bu Yayah memilih untuk mengajarkan puasa seharian mulai usia lima tahun. Namun tetap berproses. Jika anaknya ingin menangis, maka diizinkan menangis. Tapi tahun depannya tidak boleh menangis lagi. Bu Yayah juga mewajibkan anak-anak lelakinya untuk I’tikaf selama 10 hari di masjid. Selain sebagai ibadah, I’tikaf adalah sarana menimba ilmu dari para ustadz/ulama yang mengisi kajian. Kemudian belajar berkurban juga sejak kecil dengan menabung. Hingga sekarang anak-anak beliau sudah besar, ada yang mau kuliah dan HS setara SMU, sudah terbiasa berkurban setiap anak satu kurban.

Ada cerita lucu tentang salah satu anaknya yang tiba-tiba tidak mau berdoa lagi kepada Allah. Saat itu, anak beliau berusia 8 tahun. Sang anak tidak mau berdoa lagi karena merasa Allah tidak mengabulkan doanya. Ketika ditanya berdoa apa, ternyata ia meminta sebuah mobil Kijang 🙂 Lalu Bu Yayah pun menjelaskan bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan oleh Allah.

Bu Yayah sering kali mendapat pertanyaan apakah beliau professor karena mengajar sendiri anak-anaknya? Sebenarnya tidak semua materi pelajaran diajarkan oleh Bu Yayah. Beliau meneladani ibu para ulama terdahulu yang mengantarkan anak-anaknya belajar kepada para salafush shalih. Maka itulah yang dilakukan Bu Yayah. Mencarikan guru/ustadz untuk mengajar anak-anaknya. Mereka belajar Al Qur’an usai sholat Subuh. Jadi ketika teman-teman lainnya berangkat sekolah, anak-anak Bu Yayah pulang dari ‘sekolah’ di masjid. Bu Yayah memang tidak mengajarkan semua, tapi memberikan fasilitas untuk anak-anaknya.

Bu Yayah mengakui, semakin besar, pertanyaan anak-anak semakin kritis. Sehingga sebagai ibu beliau terus belajar. Meski HS, Bu Yayah selalu mengusahakan ijazah untuk anak-anaknya. Bagi beliau, ijazah adalah hak mereka. Karena ada beberapa orang tua yang meng-HS-kan anaknya, tidak masalah bila tidak berijazah.

Pesan dari Bu Yayah, ajarkanlah agama sebagai pelajaran nomor satu bagi anak-anak. Karena ketika agama, terlebih tauhid, sudah tertanam, nilai akademik mudah dikejar. Menurut pengalaman beliau di komunitas Berkemas, pelajaran SMU bisa dikejar selama 6 bulan hingga 1 tahun. Bahkan dengan nilai bagus dan masuk universitas ternama. Satu lagi pesan Bu Yayah, nikmatilah kebersamaan ketika anak-anak masih kecil. Karena saat mereka besar, kita pasti akan merindukan masa kecil mereka.

 

 

2 thoughts on “[Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga] : Membangun Keluarga Robbani – Ibu Yayah Komariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six + 2 =