Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

“Ma, besok aku pulang!” seruku girang.
Sudah dua tahun aku tidak pulang. Kegiatan baru di kampus benar-benar menyenangkan. Membuatku betah dan sedikit lupa tentang rumah. Lagipula aku merasa sayang menghabiskan uang demi tiket pesawat yang harus kubayar dengan Euro. Walaupun sebenarnya Mama tidak keberatan. Mama berkali-kali menelepon memintaku pulang. Bahkan Mama nekat akan datang ke negara tempatku menimba ilmu. Tentu saja aku melarang. Bagaimana mungkin Mama bisa datang bila hidupnya tergantung pada kursi roda. Rasa rinduku pada Mama kutuliskan dalam lembar-lembar suratku. Aku tidak mungkin terus menelepon. Sambungan internasional pasti membuat pulsa di rumah membengkak.

Hari itu tiba. Ketika Mama menyambutku bahagia. Aku mencium pipi Mama lembut. Lalu menuntun kursi rodanya ke dalam rumah yang lengang. Ah Mama pasti kesepian sejak Papa meninggal. Aku anak tunggal. Jadi saat kuliah, Mama ditemani Mbok Parmi. Tetangga sebelah rumah. Janda tua tanpa anak. Ya, dua wanita tua di rumah ini. Begitu Mama sering bilang.

Mama tertidur pulas setelah aku menceritakan banyak pengalamanku di Eropa. Pelan aku beringsut dari tempat tidur. Namun urung. Aku melihat salah satu laci terbuka. Aku mengambil sebuah map berwarna merah marun. Oh ternyata isinya surat-surat yang aku kirimnya. Aku terus membukanya hingga menemukan amplop coklat dibalik kertas-kertas suratku. Sepucuk surat (bukan) dariku. Aku penasaran. Kenapa dijadikan satu dengan surat-suratku? Aku membuka amplop coklat itu. Satu persatu aku membaca kalimatnya. Membuatku limbung. Tak percaya pada semua isi surat ini. Surat adopsiku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× seven = 56