Tribute to Breastfeeding Child, Father, Grandma, and Grandpa

“Assalamu’alaikum… Selamat pagi anak sholehah. Mana senyum pagi harinya.”
Ah, nggak kerasa ya, Nduk. Sudah enam bulan mengucapkan sapaan pagi hari ini untukmu. Dan biasanya kau membalasnya dengan senyum manismu. Kau sungguh anak Bunda yang sumeh.
Enam bulan. Ya, enam bulan sudah Bunda menyusuimu. Bahagianya Bunda bisa mengantarkanmu menjadi sarjana ASI.
Terima kasih ya, Nduk, telah berjuang bersama Bunda.
Terima kasih ya, Nduk, kau mau melewati masa-masa sulit di awal kelahiranmu ketika ASI Bunda belum keluar.
Terima kasih ya, Nduk, kau tidak bingung puting karena Bunda berikan dot saat Bunda bekerja.
Terima kasih ya, Nduk, kau minum dengan lahap ASI perahan Bunda.
Sebagai tanda terima kasih, Bunda buatkan sertifikat ini untukmu. Serfitikat tanda kau lulus S1 ASI.

Continue reading

(Terpaksa) Perah ASI Pakai Tangan

 

Sumber gambar di sini

“Hah? Emang bisa Ay pakai tangan?”
“Berapa lama tuh ngumpulinnya kalau pakai tangan?”
“Nggak pegel ya?”

Huft… komentar-komentar tidak percaya sering terlontar ketika saya dengan pede bilang, “Gue perah pakai tangan lho.”

Andai mereka tahu. Sebenarnya saya terpaksa memerah pakai tangan. Iya, TERPAKSA. Continue reading

Tempat Pumping di Kantor

Walaupun sudah ada peraturan mengenai hak ibu menyusui, kantor saya belum bisa menyediakan nursery room untuk pumping ASI. Maka ketika pertama masuk kerja setelah maternity leave, saya memilih-milih ruangan untuk pumping.

 

Toilet Marketing

 

Entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah toilet. Continue reading

Manajemen ASIP ala Astri

Hasil perahan jam 8 pagi ini

“Ay, ASIP lu masih berapa?”

“Dua puluh lima botol.”

“Hah? Banyak amat. Emang waktu masuk kerja, stok berapa?”

“Tiga puluh.”

“Cuma kepakai lima? Punya gue udah habis. Makanya sekarang kerja tayang. Lu sekali perah dapat berapa sih? Kok masih banyak aja.”

Hihihi… Pasti ada yang berpikir perahan ASI saya banyak ya? Jujur, hasil perahan saya tidak banyak. Hanya sekitar tujuh puluh sampai seratus mililiter sekali perah. Bisa dapat seratus dua puluh atau bahkan seratus lima puluh mililiter itu sesuatu banget. Tapi saya selalu mensyukuri setiap tetes ASI yang saya perah. Continue reading