Ketika Cooler Bag Tertinggal

Sumber gambar di sini

Penyakit lupa memang selalu memakan korban. Yup, akibat lupa akut yang saya derita, kanjeng romo sering kena imbasnya. Kejadian terparah akibat lupa bisa dibaca lho di buku antologi saya yang akan terbit bulan depan, Toilet I’m in Love *eh promosi. Aslinya saya tuh mau cerita penyakit lupa saya yang kambuh pagi ini. Dan parahnya, yang tertinggal adalah… jreng… jreng… alat tempur alias cooler bag dan of course isinya. Continue reading

Tribute to Breastfeeding Child, Father, Grandma, and Grandpa

“Assalamu’alaikum… Selamat pagi anak sholehah. Mana senyum pagi harinya.”
Ah, nggak kerasa ya, Nduk. Sudah enam bulan mengucapkan sapaan pagi hari ini untukmu. Dan biasanya kau membalasnya dengan senyum manismu. Kau sungguh anak Bunda yang sumeh.
Enam bulan. Ya, enam bulan sudah Bunda menyusuimu. Bahagianya Bunda bisa mengantarkanmu menjadi sarjana ASI.
Terima kasih ya, Nduk, telah berjuang bersama Bunda.
Terima kasih ya, Nduk, kau mau melewati masa-masa sulit di awal kelahiranmu ketika ASI Bunda belum keluar.
Terima kasih ya, Nduk, kau tidak bingung puting karena Bunda berikan dot saat Bunda bekerja.
Terima kasih ya, Nduk, kau minum dengan lahap ASI perahan Bunda.
Sebagai tanda terima kasih, Bunda buatkan sertifikat ini untukmu. Serfitikat tanda kau lulus S1 ASI.

Continue reading

(Terpaksa) Perah ASI Pakai Tangan

 

Sumber gambar di sini

“Hah? Emang bisa Ay pakai tangan?”
“Berapa lama tuh ngumpulinnya kalau pakai tangan?”
“Nggak pegel ya?”

Huft… komentar-komentar tidak percaya sering terlontar ketika saya dengan pede bilang, “Gue perah pakai tangan lho.”

Andai mereka tahu. Sebenarnya saya terpaksa memerah pakai tangan. Iya, TERPAKSA. Continue reading

Aleisha Mogok Minum ASIP Pakai Dot

Sebulan yang lalu Aleisha pernah mogok minum pakai dot. Ketika pulang kantor, Mama langsung memberondong saya.
“Aduh, Dedek nggak mau minum lho dari tadi. Disembur terus?”
“Tapi rewel nggak, Ma?” tanya saya. Agak khawatir karena biasanya Aleisha suka-suka saja minum dari dot.
“Nggak sih. Udah tiga kali lima puluh mili kebuang.”
Glek! Tiga kali lima puluh mili? Berarti seratus lima puluh milil dong? Continue reading