Memilih Takdir Cinta

 

Ketika melihat satu-persatu teman menikah, ingin rasanya bisa menikmati kebahagiaan seperti mereka. Rasa iri kadang terbesit. Namun saya segera sadar, mungkin memang belum waktunya.

 

Sebenarnya saya pun tidak ingin terburu-buru. Menikah adalah perjanjian yang maha berat. Syarat untuk menikah bukan hanya sekedar keinginan. Tapi juga kesiapan lahir dan batin. Karena menikah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Jangan sampai perbedaan itu memicu konflik yang berujung pada perceraian. Maka berbagai buku tentang pernikahan saya lahap. Saya harus menyiapkan diri sebaik-baiknya. Agar bila saatnya tiba, saya sudah siap menyambut kehadiran sang imam.

Continue reading

Belajar dari Kesederhanaan dan Ketulusan Seorang Ainun

Bosan kepada pasangan? Hmmm…. Sepertinya saya belum mengalaminya. Saya menikah 1,5 tahun yang lalu tanpa pacaran. Jadi bagi saya setiap hari adalah menemukan the something new from him. Tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti di antara kami mengalami kebosanan. Saya bisa memaklumi mereka-mereka yang dilanda kebosanan kepada pasangannya –suami atau istri. Coba bayangkan. Setiap bangun tidur, wajah siapa yang pertama kali dilihat? Pasti suami atau istri bukan? Lalu menjelang tidur, lagi-lagi yang kita temui terakhir adalah suami atau istri.

 

Dalam rumah tangga yang dibangun sekian puluh tahun, saya yakin ada kebosanan yang melanda. Namun disitulah letak ujian bagi pasangan yang sudah menikah. Kita harus selalu berpikir kreatif untuk membangun keharmonisan tanpa rasa bosan. Atau mengembalikan kehangatan saat rasa bosan hadir.

 

Untuk membangun rumah tangga, saya banyak belajar dari sepasang manusia yang cintanya telah teruji selama 48 tahun. Ya, Habibie dan Ainun. Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kehidupan rumah tangga Habibie dan Ainun. Continue reading