Sambal Pecel Bu’ Sam, Sedap Aroma Jeruk Nipis dan Kencurnya

Sayang kurang peyek nih. Nggak ada kriuk-kriuknya :D

Sayang kurang peyek nih. Nggak ada kriuk-kriuknya 😀

Pecel. Sebagai orang Jawa tulen, pecel menjadi salah satu makanan favorit saya. Dulu waktu masih tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, keluarga kami memiliki tukang pecel langganan. Lokasinya tidak jauh dari kompleks rumah kami di Asrama Batalyon 412. Rasa pecelnya itu selalu membuat bapak, ibuk, dan saya ketagihan. Paling tidak, seminggu sekali, kami pasti membeli pecel di sana. Yang saya ingat, sensasi aroma daun jeruk dan kencurnya itu membuat lidah tidak bisa berhenti bergoyang. Sedap!

Lalu ketika kami pindah ke Papua, pecel tetap jadi favorit di rumah. Sayangnya, baik di Sentani atau Sorong, tidak banyak yang jualan pecel. Malah jujur yaaa, saya belum pernah lihat. Mungkin yaaa ada yang jual, tapi sayanya yang nggak tahu. Untungnya di supermarket dijual sambel pecel instan. Memang sih kami masih bisa menikmati pecel. Tapi rasa sambal pecel instan itu, kurang nampol. Tetap ya ada daun jeruk dan kencur di komposisinya. Hanya saja aromanya itu kurang menggoda.

Sewaktu kuliah di Bogor, saya tidak pernah makan pecel. Kebanyakan yang dijual gado-gado. Makan pecel lagi ya pas liburan ke rumah simbah di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Saya kembali akrab dengan pecel saat belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Hampir setiap hari saya makan pecel. Hanya saja kali ini bukan sekedar doyan, tapi karena murah bo. Seporsi sudah pakai nasi, tempe goreng, dan peyek, cuma dua ribu perak. Murah pakai banget sekali kan? Saya punya langganan warung pecel dan sering sarapan di sana dengan Putri, teman kampus yang bareng belajar di Pare. Kenapa harus setiap sarapan? Karena kalau siang pasti sudah habis. Warung pecel itu selalu ramai. Dan di situ juga biasanya saya memilih tempat traktiran. Biar nggak merasa berdosa sama yang mentraktir. Atau kalau saya yang mentraktir, nggak rugi-rugi amat *hahaha. Alasan kenapa saya ngefans makan pecel di warung tersebut, karena saya kembali menemukan sensasi wangi aroma daun jeruk dan kencur. Duh, maaf ya saya ngomongin daun jeruk sama kencur melulu. Soalnya buat saya, bumbu pecel nggak nendang tanpa kedua bahan tersebut.

Kemudian setelah menikah, pecel jadi andalan jika saya sedang malas masak yang ribet-ribet. Tinggal rebus sayur, terus siram sambal instan deh. Siap dimakan. Tapi seperti di Papua, sambal pecel instan supermarket itu kurang sedap aromanya. Bahkan ada yang dicampur tepung. Tapi ya berhubung malas bikin sambalnya, makan ajalah. Suami juga nggak protes *hihihi.

1 Continue reading