Tempat Pumping di Kantor

Walaupun sudah ada peraturan mengenai hak ibu menyusui, kantor saya belum bisa menyediakan nursery room untuk pumping ASI. Maka ketika pertama masuk kerja setelah maternity leave, saya memilih-milih ruangan untuk pumping.

 

Toilet Marketing

 

Entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah toilet. Continue reading

Manajemen ASIP ala Astri

Hasil perahan jam 8 pagi ini

“Ay, ASIP lu masih berapa?”

“Dua puluh lima botol.”

“Hah? Banyak amat. Emang waktu masuk kerja, stok berapa?”

“Tiga puluh.”

“Cuma kepakai lima? Punya gue udah habis. Makanya sekarang kerja tayang. Lu sekali perah dapat berapa sih? Kok masih banyak aja.”

Hihihi… Pasti ada yang berpikir perahan ASI saya banyak ya? Jujur, hasil perahan saya tidak banyak. Hanya sekitar tujuh puluh sampai seratus mililiter sekali perah. Bisa dapat seratus dua puluh atau bahkan seratus lima puluh mililiter itu sesuatu banget. Tapi saya selalu mensyukuri setiap tetes ASI yang saya perah. Continue reading

Dot Pilihan Genduk

 

Bunda galau, Nduk, menjelang cuti melahirkan habis. Rasanya Bunda tidak siap berpisah darimu walau sedetik. Selama masa maternity, kamu tidak pernah lepas dari Bunda. Makanya Bunda parno membayangkan akan meninggalkanmu dua belas jam selama lima hari. Ya memang ada Eyang (mertua – red) yang nanti akan membantu Bunda merawatmu. Tapi tetap saja beda, Nduk. Ingin Bunda menjadi stay at home mommy. Tapi Yanda masih membutuhkan bantuan Bunda untuk mencari nafkah. Kalau Bunda enggak kerja, siapa yang bayar cicilan rumah. Lho kok Bunda jadi curhat ya. 😀

 

Akhirnya, setelah melalui air mata yang berderai-derai, Bunda ikhlas kembali bekerja. Sayangnya sepuluh hari menjelang bekerja, Bunda belum mengajarimu minum ASIP. Padahal Bunda sudah membelikan botol sendok.

Continue reading