Cerita Dibalik Bebas Nenennya Aleisha

Dan dengan ini, saya menyatakan Aleisha bebas dari nenen. Tok! Tok! Tok! Akhirnya palu pun diketuk menandakan Aleisha sudah tidak nenen lagi. Huft! Akhirnya… Setelah kelebihan setahun, Aleisha dengan penuh kesadarannya melambaikan tangan dan mengatakan say good bye pada nenen.

Banyak yang menanyakan, kok sampai tiga tahun? Kenapa? Bukannya menyusui dalam hanya sampai dua tahun? Memang ada kelebihannya menyusui hingga tiga tahun? Dan saya cuma nyengir. Jujur, saya melebihkan waktu menyusui hanya sebagai pemuasan batin emaknya. Soalnya selama dua tahun masa menyusui, saya kan kerja. Otomatis saya bisa menyusui langsung malam, pagi hari sebelum berangkat, dan weekend. Selebihnya Aleisha minum ASIP atau ASI perahan. Tapi kadang weekend pun ada training. Apalagi bank tempat saya bekerja sempat mengalami pergantian sistem. Tahu sendiri kan kalau perbankan sudah ganti sistem dan saya di bagian operasional. Hampir dua bulan, setiap weekend saya tetap harus masuk. Belum lagi lembur every day hingga jam tujuh atau delapan malam. Makanya begitu saya resign tepat di ulang tahun Aleisha kedua, saya memang belum berniat berhenti menyusui. Saya mau balas dendam!

Niat awal sih mau dilebihkan empat atau lima bulan saja. Tapi… eh malah bablas sampai setahun. Apalagi air susu saya masih berproduksi. Sebenarnya setelah dua tahun, frekuensi menyusu Aleisha hanya dua kali. Tidur siang dan malam. Namun orang-orang di sekitar saya pada sibuk memberikan ‘sanksi sosial’ alias meledek. Sudah pasti itulah. Cuma sayanya… bodo nanan. Aleisha juga cuek dan asyik-asyik aja nenen. Yaelah… ya jelas yang namanya anak pasti seneng disuruh nenen.

Setelah mencecar saya dengan ‘sanksi sosial’ mulai memberikan solusi untuk menyapih. Mulai dari yang mengoles brotowali, memplester puting plus ditetesi obat merah, sampai menghitung weton. Pokoknya jauh dari kata menyapih dengan cinta a.k.a WWL (weaning with love). Hadeuh… senyum aja deh. Iya sih berhasil, tapi efeknya kan membohongi anak. Seperti tetangga yang anaknya berumur empat setengah tahun. Kalau ditanya kenapa nggak nenen lagi. Jawabnya, “Nggak ah nenen Bunda pahit.” Huhuhu… sedihnya yaaaa. Padahal nenen kan nggak pahit. Saya sih pinginnya Aleisha menjawab, “Karena aku sudah besar. Jadi nggak nenen lagi.” It means, anak menjawab dengan penuh kesadaran bahwa jika sudah besar, maka tidak nenen lagi.

Nah sekarang, ada yang menanyakan, “Susah nggak menyapih anak udah kadung gede?”

Drama? Pasti! Aleisha nangisnya sampai nggerung-nggerung. Terus matanya menatap iba minta dikasihani. Yup, tiga bulan menjelang tiga tahun akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Aleisha. Alasannya udah geli dinenen bayi gede a.k.a toodler. Kadang sampai saya paksa lepas saking gelinya. Ya sudah, disapih aja deh. Dan… drama penyapihan pun dimulai. Continue reading