Tentang Booster ASI

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Ngomong-ngomong soal booster ASI, saya jadi teringat almarhum sahabat saya, Putri. Dia dulu adalah partner in crime saya saat menjadi mama perah. Kami sama-sama pejuang ASI yang memerah di gudang kantor. Hiks… kantor hanya bisa menyediakan gudang untuk karyawatinya yang sedang berjuang ngASI. Sama-sama mama perah dengan menggunakan tangan a.k.a marmet. Tadinya sih Putri pakai breastpump. Tapi lantas berubah haluan menjadi marmet. Sama-sama nggak pernah mikirin soal booster ASI. Kami percaya, asal mood ibu bahagia, urusan perah-memerah lancar jaya. Alhamdulillah Aleisha bisa ASI hingga 2 tahun, plus bonus 1 tahun. Sedang Putri hanya 1,5 tahun. Karena tabrak lari telah merenggut nyawa Putri dan janin dalam rahimnya. Membuat putranya yang saat itu berusia 18 bulan menjadi anak yatim. Tuh kan mbrebes mili lagi. Al Fatihah untuk Putri.

Yups, jadi dulu jaman menyusui Aleisha, saya blas nggak pakai booster sama sekali. Padahal saya kerja dan harus pumping. Tapi saya enjoy aja meski sekali pumping cuma 100 ml. Kenaikan BB Aleisha juga normal, 7 ons hingga 1 kg. Tapi entah mengapa edisi menyusui Baran kok jadi maniak booster ASI. Soalnya saya udah diberi titah untuk menambah susu Baran saat usianya 6 bulan. Konon katanya anak laki-laki nenennya kuat. Tapi nenen kuat juga kan nggak mesti harus ditambah sufor. Saya Insya Allah yakin ASI saya cukup. Cuma kalau titahnya disampaikan setiap hari, mamak baper lah. Apalagi BB Baran sempat seret karena tertular batuk mbaknya di umur 3 minggu. Hiks… Dan gara-gara baper, saya pun mulai melirik yang namanya booster ASI. Oh no… saya nggak anti sufor kok. Namun selama ASI saya cukup ya ASI aja lah. Biar uangnya buat jajan booster ASI emaknya yang enak-enak. Hmmm… ngASI emang murah, tapi boosternya yang mahal *lol. Nggak apa deh. Biar Baran ginuk-ginuk.

Terus makan atau minum booster ASI apa aja, Mak?

1. Lactabrown dan Milkies

11988201_10208739447903011_4137517103092945252_n(1)Ini adalah booster ASI pertama saya. Beli di Anna Bakery Yogyakarta (IG: AnnaBakery). Rasanya jangan ditanya. Enak banget. Bahkan saya harus menyembunyikan Lactabrown. Soalnya kalau ketahuan Aleisha bisa rebutan. Dia kan penyuka coklat. Dan Lactabrown itu nyoklat banget. Haduh pokoknya nggak bisa berhenti makan. Lha kok tahu ada booster ASI enak begini? Saya dapat ratjun dari Mbak Siska di grup Rumah Puspa. Tapi berhubung harganya lumayan untuk saya yang stay aja di rumah, saya baru sekali beli. Terus ada yang kasih kado Lactabrown dan Milkies dalam jumlah banyak. Alhamdulillah rezeki mamak sholehah. Efeknya lumayan. Baran kalau nenen sampai huek-huek. Continue reading

Agar Tak Bosan Pumping ASI

Sumber gambar: www.popsugar.com

Sumber gambar: www.popsugar.com

Udah lama banget saya nggak baca-baca artikel di Mommies Daily. Dan tiga hari lalu punya kesempatan di depan laptop agak lama. Ya udah deh, puas-puasin bacanya. Terus saya ketemu dengan artikel yang membuat saya teringat ketika masih berstatus working mom sekaligus ibu menyusui. Judul artikelnya ‘Bosan Memerah ASI?’. Kalau yang tahu gimana selalu bersemangatnya saya pumping ASI, sampai kadang saya masa bodo ada nasabah, atau cuek aja saat diteriakin suruh cepat, mungkin nggak mengira saya pernah bosan dengan aktivitas ini. Ralat… bukan pernah, tapi sering. Iya, saya sering merasa… Ya Allah bosennnn… pingin cepet Aleisha dua tahun. Biar bebas tugas dan nggak repot pumping-pumping lagi.

Alhamdulillah, saya nggak pernah membiarkan rasa bosan berlarut-larut. Saya berusaha mencari cara supaya selalu semangat untuk mengumpulkan setetes demi setetes ASI. Berikut ini beberapa jurus yang saya lakukan saat bosan melanda. Continue reading

Cause I Love Breastfeeding

Astri Hapsari | @AstriHapsari_ | 081519254080

“Kok nggak dibotolin aja, Mbak?”

Pertanyaan itu meluncur dari seorang kawan dekat saya, saat sedang menghadiri acara pernikahan teman kantor kami. Memang ketika datang saya tidak langsung menyapa teman-teman yang rupanya sudah datang terlebih dahulu. Aleisha sudah merengek-rengek minta nenen sejak di mobil. Tapi karena kondisi mobil penuh, saya tidak leluasa jika harus menyusui di dalamnya. Maka begitu sampai gedung, saya mencari kursi kosong dan membuka gentong untuk Genduk 🙂

Begitu melihat saya duduk, kawan saya itu mendekat. Duduk di sebelah saya.

“Bobo, Mbak?” tanyanya sambil menunjuk Aleisha.

“Lagi nenen,” jawab saya.

Kawan saya pun mengerutkan kening dan muncullah pertanyaan itu. “Kok nggak dibotolin aja, Mbak?” Continue reading

Janji Kepada Allah untuk Menyusui Dua Tahun

Sumber gambar di sini

“Iya nih, Mbak, aku udah nggak pumping lagi.”

“Lho bukannya masih tujuh bulan? Terus dikasih sufor?”

“Nggak kok masih ASI. Tapi malam aja. Kalau pagi sampai sore dikasih makan terus. Jadi sehari makannya bisa sampai lima kali.”

 

“Anak gw udah makan dari lima bulan. Habis kayaknya beratnya kurang.”

“Yakin aja, Mbak, ASInya cukup.”

“Ah DSA gw kok yang nyaranin. Terus sekarang gw juga malas pumping. Paling sore aja. Anak gw kan udah sebelas bulan. Banyakin aja makannya. Jadi kalau lapar, kasih biskuit.”

 

Saya terdiam. Sebenarnya ingin sekali mengatakan, MPASI itu Makanan Pendamping ASI, bukan Makanan Pengganti ASI. Apalagi bayinya belum satu tahun. ASI tetap menjadi asupan utama. Tapi… ya sudahlah. Setiap ibu punya pilihan masing-masing. Saya tidak ingin menghakimi. Hanya saja, percakapan tersebut menjadi penyemangat untuk saya memperjuangkan ASI hingga dua tahun. Continue reading