[RESENSI] Bulan Terbelah di Langit Amerika: Karena Dunia Tidak Lebih Baik Tanpa Islam

Judul Buku: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis: Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 344 Halaman

 

Yang sebenarnya ada dalam hatiku adalah kekalutan yang sama sepertimu. Aku dan matahari. Kalian pikir kami bahagia dengan perjalanan panjang yang rasanya tak berujung ini? Melihat kalian berjatuhan, bangkit, menikam, lalu tiba-tiba bersenda gurau dan entah akhir seperti apa yang kalian harapkan.

Tapi sekali ini saja, kau tidak akan pernah mengetahui kapan diriku membelah lagi. Dan kalaupun itu terjadi nanti, aku bahagia. Karena dengan itu perjalananku dengan matahari telah usai.

 

Bulan Terbelah di Langit Amerika…

Ketika pertama melihat cover buku ini di FB seorang teman, terlintas di pikiran saya, novel ini berkisah tentang Islam di Amerika. Bahwa Hanum dan Rangga melanjutkan perjalanan mereka ke Amerika, setelah dari Eropa, untuk menguak cahaya Islam di negeri Paman Sam. Dalam bayangan saya, novel ini berlatar tragedi Black Tuesday atau 11 September. Dari pemilihan judul, bulan terbelah, saya menebak Penulis menemukan sebuah fakta mengenai salah satu mukjizat Rasulullah SAW, yaitu membelah bulan.

Ya, tebakan saya mengenai Islam di Amerika dan tragedi 11 September memang benar. Tapi tentang novel ini adalah lanjutan dari 99 Cahaya di Langit Eropa tidak sepenuhnya benar. Pada bagian pengantar, Hanum dan Rangga menjelaskan jika draft novel Bulan Terbelah di Amerika ditulis lebih awal. Namun ‘adiknya’, 99 Cahaya di Langit Eropa, yang duluan lahir. Kemudian tentang fakta bulan terbelah juga saya salah. Karena ternyata bulan terbelah menjadi inspirasi bagi tokoh di novel ini untuk menjadi seorang yang lebih baik.

Hanum Salsabiela menyuguhkan kisah perjalanan sebagai agen Muslim yang baik ke Amerika, diawali dengan tugas yang diberikan oleh atasan sekaligus sahabatnya, Gertrud Robinson. Bosnya di surat kabar Austria Heute ist Wunderbar, Today Is Wonderful, ingin Hanum menulis artikel tentang “Would the world be better without Islam?”. Artikel kontroversial untuk mendongkrak oplah Heute ist Wunderbar yang nyaris bangkrut. Tentu saja, pada awalnya Hanum menolak mentah-mentah keinginan Gertrud. Namun, Hanum merenungkan kembali permintaan bosnya itu. Pasti ada alasan mengapa Gerturd meminta Hanum yang menulis artikel luar biasa tersebut.

“Terima kasih, Hanum. Aku bersyukur. Kau tahu, jika Jacob yang menulisnya, pernyataan itu jelas akan terjawab ‘ya’. Denganmu seorang muslim, aku masih berharap kau menjawab pertanyaan itu dengan ‘tidak’. Kau paham kan sekarang?”  (Halaman 51)

Di sisi lain, Rangga yang sedang mengajukan proposal paper tentang giving, justru diberi tugas oleh Prof. Reinhard untuk presentasi dan menghadiri konferensi di Washington DC. Sekaligus tugas berat, yaitu meyakinkan Phillipus Brown, seorang pebisnis, milyader, dan filantropi, yang menjadi keynote speaker di konferensi itu,  untuk mengisi stadium general di universitasnya.

Orang sering menyebut serendipity atau kebetulan yang menyenangkan. Namun bagi Rangga, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua adalah grand design dari Allah hingga ia dan Hanum bisa berangkat ke Amerika bersama. Continue reading