Tempat Pumping di Kantor

Walaupun sudah ada peraturan mengenai hak ibu menyusui, kantor saya belum bisa menyediakan nursery room untuk pumping ASI. Maka ketika pertama masuk kerja setelah maternity leave, saya memilih-milih ruangan untuk pumping.

 

Toilet Marketing

 

Entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah toilet. Kebetulan toilet memang letaknya di belakang meja saya. Ukurannya lumayan besar. Biasa saya membawa dua kursi. Satu untuk duduk. Sedangkan yang lainnya untuk meletakkan mangkuk dan botol penyimpan ASIP. Sebenarnya saya nyaman pumping di toilet karena bersih. Tapi Mas Adit, rekan kerja saya, melarang.

“Jangan di toilet sih, Ay. Masa anaknya dikasih minum susu campur bakteri.”

Saya jadi berpikir, iya ya pumping di toilet memang rawan bakteri. Meskipun toiletnya bersih.

 

Pantry

 

“Di pantry aja sana,” saran Mas Adit.

Pindahlah saya ke pantry. Ruangannya lebih sempit. Dan saya harus menyempil supaya tidak terlihat. Ada sedikit bagian di pintu yang dipasang kaca. Jadi terlihat dari luar. Hmmm… nyaman pumping di pantry. Sayangnya tidak nyaman untuk dua office boy di kantor.

“Mbak Ay, masih lama nggak?”

“Mbak Ay, mau ambil piring.”

Grrrr… mana enak coba lagi pumping di gangguin begitu. Eh sebenarnya saya yang mengganggu ya. Kan pantry ruang kerja mereka. Hihihi… nggak nyadar. Duh pindah ke mana?

 

Gudang

 

Here I am. Akhirnya saya pindah ke gudang. Ruangannya besar dan bersih. Nah di gudang ini saya bisa pumping bersama Mbak Amie, sesama busui di kantor. Kalau sedang pumping bareng, Mbak Amie menghadap utara dan saya menghadap timur. Ternyata pumping bareng teman itu asyik lho. Sambil ngobrol tahu-tahu mangkok sudah penuh. Dan saya surprise saat Irul, salah satu office boy, menunjukkan dukungannya. Sama seperti pantry, ada sedikit bagian pintu yang dipasang kaca. Sewaktu saya memerah membelakangi pintu dan sedikit menyempil di antara kardus-kardus, terdengar bunyi sret… sret…. Penasaran, saya pun menengok. Ups, si Irul lagi memasang lakban hitam di bagian kaca.

“Siapa, Rul, yang nyuruh pasang lakban?” tanya saya usai pumping.

“Saya sendiri, Mbak.”

“Ih kok tumben kamu pinter.” Hihihi… memujinya setengah-setengah.

 

Alhamdulillah… meski belum bisa menyediakan nursery room, saya diizinkan pumping sehari tiga kali. Dilanjutkan di rumah sekali sebelum tidur dan sekali lagi bangun tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× eight = 40