Tentangmu yang Selalu Manis

“Saskia yang manis.”

“Pretttt….” sembur Dian.

Saskia tertawa. “Eh dilarang sirik. Sirik tanda tak cantik.”

“Sirik tanda menduakan Allah kali.”

Begitulah Saskia. Semua tentang dirinya memang manis. Dian mengakui itu. Wajah yang manis. Baju yang manis. Tutur kata yang manis. Makanan yang selalu manis. Sayang yang terakhir Dian tidak suka.

“Saski, jangan banyak-banyak gulanya!” Entah sudah berapa kali Dian mengingatkan.

“Aduh susah. Orang manis kan suka yang manis-manis.” Selalu begitu jawaban Saskia.

 

🙂 🙂 🙂

 

“Dian, bisa ke rumah sakit sekarang?”

“Saskia kenapa, Tante?”

“Datang aja dulu kesini, Dian.”

Bergegas Dian berlari keluar rumah. Mencegat taksi seperti orang kesetanan. Suara mamanya Saskia tampak panik. Dian berdoa semoga Saskia baik-baik saja. Namun kenyataan tidak seperti harapan Dian. Sampai di rumah sakit, tubuh Saskia sudah diselimuti kain putih. Dian lemas. Ia terlambat. Tidak sempat bertemu Saskia untuk terakhir kali.

 

🙂 🙂 🙂

Dian meletakkan buket bunga lili di atas tanah yang masih merah. Bunga kesukaan Saskia. Secarik kertas menempel di buket bunga itu.

 

Tentangmu yang Selalu Manis

Saskia, semua tentangmu memang manis. Semasa hidupmu, kau adalah gadis yang manis. Bahkan kau pergi karena manis. Ya, penyakit diabetes akut telah merenggutmu, Saskia yang manis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ two = 5