(Terpaksa) Perah ASI Pakai Tangan

 

Sumber gambar di sini

“Hah? Emang bisa Ay pakai tangan?”
“Berapa lama tuh ngumpulinnya kalau pakai tangan?”
“Nggak pegel ya?”

Huft… komentar-komentar tidak percaya sering terlontar ketika saya dengan pede bilang, “Gue perah pakai tangan lho.”

Andai mereka tahu. Sebenarnya saya terpaksa memerah pakai tangan. Iya, TERPAKSA. Awalnya saya punya breastpump merk Avent yang manual. Saya membelinya saat hamil tujuh bulan. Setelah googling dan baca review sana-sini, saya tertarik dengan breastpump Avent manual. Saya pikir keren banget sudah punya breastpump sebelum melahirkan. Berarti saya siap memberikan ASI sebagai hak anak.

Sayang, kebanggaan saya runtuh bagai longsor yang merusak rel di Cileubut *halah lebay. Ceritanya saya berkunjung ke klinik laktasi di St. Carolous. Saya pun ditanya, “Apakah Ibu sudah punya breastpump?”
“Sudah,” jawab saya dengan semangat berkobar-kobar. Bangga dong gue!
Namun pernyataan sang dokter beberapa saat kemudian membuat saya melongo persis sapi ompong.
“Harusnya Ibu tidak usah beli breastpump.”
What?
“Perah pakai tangan justru lebih efektif.”
Hah? Terus? Terus? Breastpump gue buat apaan? Hiks…
“Jual aja.”
Eh itu tadi suara siapa? Masa dokternya suruh jual breastpump. Ah ternyata suara hati *haish.

Saya diajari oleh bidan-bidan di sana cara memerah menggunakan tangan.
“Jempol diletakkan kurang lebih dua senti ya, Bu, di atas aerola. Jari tengah dan telunjuk di bagian bawahnya. Lalu tekan perlahan. Jangan didorong ke depan. Nanti payudara Ibu lecet.”
Oh baiklah. Tapi saya belum bisa mempraktekkan karena khawatir kontraksi.

Sepulang dari klinik laktasi, saya merenung. Aduh breastpumpnya buat apa ya? Masa sih dijual. Sayang amat. Ah, pasti nanti terpakai. Ya, memang terpakai untuk membantu mengeluarkan puting. Namun ketika Aleisha sudah berdamai dengan puting saya yang inverted, breastpumpnya menganggur. Saya nggak terima lihat breastpump teronggok begitu saja. Yo wis lah, saya putuskan untuk memerah pakai si Avent. Ealah kok malah sakit. Puting saya yang mendelep jadi merekah. Kalau mawar merekah bagus kan. Lah ini puting merekah, berasa nyut-nyutan. Sudahlah saya nggak mau pakai breastpump lagi. Cuci, steril, masuk kardus, dan simpan di lemari.

Beberapa ibu yang tidak cocok dengan satu breastpump, akan beralih ke merek yang lain. Saya juga maunya begitu. Tapi ada yang nggak rela. Meronta. Menjerit. Tidak mau buat beli breastpump. Nah lho siapa tuh? Duit di kantong *hiks.

Saya teringat ajaran perah pakai tangan. Sepertinya harus dipraktekkan. Tapi… tapi… keluarnya cuma crit… crit…. Haduh pusing. Googling lagi. Saya pun berkenalan dengan Marmet *salim dulu. Marmet, beliau yang menemukan metode memerah ASI menggunakan tangan. Sehingga kini terkenal dengan metode Marmet. Oh ternyata kalau mau memerah ASI pakai tangan ada ritualnya dulu.

Ritual 1
Sebelum memulai proses memerah, pastilah yang pertama dilakukan adalah mencuci tangan dengan sabun. Kemudian berusaha untuk rileks dan tenang agar bisa optimal mengeluarkan ASI dari gentongnya. Untuk tempat memerah di kantor, kita bisa mendiskusikan dengan atasan agar mendapatkan tempat yang nyaman. Saya sendiri memerah di gudang. Tapi gudangnya bersih lho. Lalu bila sempat, kompres payudara dengan air hangat menggunakan handuk kecil, waslap, kain lembut, atau kompres reuseable dari next care. Saya pakai yang terakhir. Walaupun akhir-akhir ini jarang memakai *hiks.

Ritual 2

Sumber gambar di sini

A. Massage
Saya menggunakan jari telunjuk dan tengah untuk mengurut payudara. Gerakan mengurutnya seperti spiral dari dasar payudara ke arah puting. Waktu di klinik laktasi diberi tahu, gerakan spiralnya sebanyak tiga puluh dua kali. Tapi saya sendiri nggak pernah menghitung. Pokoknya diurut aja.

B. Stroke
Setelah diurut, tekan payudara menggunakan jari tangan dengan lembut. Dari dasar payudara hingga puting. Harus merata ya ke seluruh bagian payudara. Lalu saya melakukan stroke dengan ujung jari. Gerakan seperti menyisir.

C. Shake
Nah, bagian ini rada-rada gimana gitu. Jangan parno yah. Jadi condongin tubuh ke depan. Lalu kocok-kocok deh tuh payudara. Teorinya, ASI akan turun mengikuti daya tarik bumi.

Ritual 3

Saya meletakkan jari telunjuk dan tengah sekitar 2,5 – 3,8 cm dari puting. Lalu ibu jari di bagian bawah. Bentuk tangan seperti huruf C. Kalau diibaratkan dengan jam, jari telunjuk dan tengah di angka 12 dan ibu jari di angka 6. Namun saya sendiri tidak terpatok dengan 100% dengan metode marmet. Saya lebih menggunakan insting untuk menempatkan jari di gudang ASI. Jika sudah terbiasa, mudah kok menemukan letak gudang ASI.

Sumber gambar di sini

Setelah posisi dirasa tepat, tekan dengan lembut ke dinding dada. Lalu buatlah gerakan menggulung (roll)  pada waktu yang sama dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari “gudang ASI” yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Gerak rolling ini memadatkan dan mengosongkan “gudang asi” tanpa melukai jaringan payudara yang sensitif. Ingat ya, jari-jari jangan sampai bergeser karena bisa membuat payudara memar. Ulangi terus gerakan tersebut hingga ASI tidak keluar. Lalu pindahkan jari-jari. Gunakan insting ya untuk menemukan gudang ASI yang lain.

Awal mencoba marmet, saya menggunakan botol Avent untuk menadah. Lha kok nggak ada yang keluar blas. Piye iki? Saya jadi bingung. Apa yang salah? Ah, coba cari videonya di YouTube. Aha dapat.

 

 

Oalah, ternyata kalau marmet itu nadahnya pakai mangkok yang lebar. Soalnya bakalan muncrat-muncrat. Besoknya saya coba. Pakai mangkok gratisan dari deterjen *emak medit. Voila, berhasil.

Tiga puluh mililiter
Lima puluh mililiter
Tujuh puluh mililiter
Seratus mililiter
Seratus lima puluh mililiter

Huhuhu terharu *nangis bombay. Akhirnya saya bisa juga marmet. Memang sekali perah, kurang lebih menghabiskan waktu dua puluh menit, hanya seratus sampai seratus lima puluh mililiter. Jadi saya harus disiplin dan rajin memerah. Lama-kelamaan saya menemukan seninya marmet. Saya bisa merasakan aliran ASI yang mengucur. Saya juga harus memainkan insting ketika memindahkan posisi jari. Supaya pas di titik waduk ASI. Jadi ketika saya tekan, langsung sorrr… Saat memerah, saya juga bervisualisasi. Membayangkan ASI saya mengalir deras ibarat air terjun. Dan mengingat lucunya Aleisha. Sangat efektif sekali lho.
So, ibu-ibu yang mau medit sedikit. Eh irit maksudnya. Coba yuk perah ASI ala marmet. Gampang kok. Cuma ya harus sering latihan dan praktek. Marmet butuh jam terbang tinggi.
Terus nasib si breastpump bagaimana? Ya seperti kata hati saya waktu di klinik laktasi.
Dijual! Hiks.

24 thoughts on “(Terpaksa) Perah ASI Pakai Tangan

  1. kok sama ya mba..sampe sekarang masih marmet, tapi nggak di kantor…tiap pulang kerja dan nggak pake aturan di atas tuh mba, soale PDnya dah kenceng banget…hasilnya lumayan untuk memenuhi stok ASIP anakku…alhamdulillah…

  2. Hi mba…
    sama donk kita, saya juga di suruh berhenti pakai pompa sama suster di st. carolus. saya sudah 2 hari ini pakai tangan tapi hasilnya sedikit mba cuma 50 ml.

    • aku waktu pertama pakai tangan juga dapatnya dikit mbak
      paling banyak 70 ml
      sekarang alhamdulillah bisa sampai 120 ml
      yg penting latihan terus
      cemungud eeea 😀

  3. Rencana mau beli pompa, tapi setelah baca ini….nyoba dulu ah, Doakan saya yaaaa..*benteng takeshi.mode on………..xixixi, thanx a lot lho……..

  4. Like this, bikin semangat utk nyobain metode marmet. Kynya payudara saya agak2 not responding sm breastpump selain wkt mompa jam 3 pagi. Dptnya jg plg mentok 95ml, udh bikin idung kembang tuh.
    Smg eyang marmet jd pencerahan yg selama ini dicari2, aamiin..
    Makasih ya, tulisannya bener2 ampuh jd mood booster.
    Jangan lupa: medit pangkal kaya!
    *he?

    • hihihi pakai tangan emang hemat dan gak ada acara ketinggalan 🙂
      terus latihan ya mbak
      biar makin canggih marmetnya 🙂

  5. Wah cinta banget sama Mba Astri. muah muah …
    Tadi malem aku ampe nangis. Karena ikut pameran kemaren pulangnya larut malam.
    Payudaraku dah penuh banget. Selesai pompa sebelah kiri BP aku kok nyedotnya jadi gak kenceng alias rusak. Dicoba terus sampai nangis_nangis karena udah berasa mau demam. BBM tetangga gak ada yang nyaut, secara jam 1 malem. Gak tau lagi deh caranya musti gimana.
    Akhirnya aku ngandelin bah gugel dan ketemu artikel ini. Trus langsung dicoba. Subhanallah ternyata Allah sudah menciptakan breast pump yang anti rusak lebih canggih dari buatan Cina dan Jerman sekali pun. Serrrrrr sekali pompa langsung dapet 210 ml. Huaaaaaaa jadi pengen nangis bahagia.
    Thks ya Mba

  6. hi maak… pengalamannya sama denganku.. awal2 juga pakai breastpump. setelah ngobrol sana sini sama teman2 seperjuangan, akhirnya memutuskan pakai tangan.. hasilnya luar biasa melimpah, cepat pula.. tinggal pencet2 bentar, dapat deh 120 ml 😀

    salam ASIP 😉

  7. Sama ky aku say, aku disarankan sm bidan dan perawat di RSB. Alvernia Agusta. Wkt itu aku mau pinjem pompa krn si dd bobonya lama bgt PD udh sakit. Mereka bilang jgn pake pompa pake tangan aja jauh lebih baik. Setelahku coba bener di rumah aku pake pompa malah lama, manual justru lbh cpt dan hasilnya memuaskan 😀
    Semangat bunda mama momy umi ibu untuk terus ksh ASI.. *bighug* hidup asix hidup asip :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven + = 10