Think of Homeschooling

Sebagai mom-to-be, terkadang terbesit kekhawatiran ketika membaca atau mendengar berita tentang pendidikan di Indonesia. Video porno, Bang Maman, tawuran, bullying, pamer gadget, fashion, dan lain-lain. Rasanya tidak ingin menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah yang lazim di Indonesia. Mengapa saya sebut lazim? Masuk pagi. Pulang sore. Dari SD sampai SMU materi belajarnya sama. Kalau tidak bisa matematika, fisika, kimia atau pelajaran eksak sejenis, dianggap kurang pandai. Itulah yang saya sebut dengan lazim.

 

“Di sekolah alam anak-anaknya dibikin fun, Ay?”

 

Oh, OK dibuat menyenangkan. But, what time they go home?

“Tergantung. Kelas satu sampai empat jam dua. Kelas lima sampai enam jam setengah empat.”

 

Iya sih anak-anak dikondisikan enjoy. Tapi anak SD pulang jam setengah empat, kok saya enggak tega ya. Haduh, saya yang dewasa saja tidak sanggup membayangkannya. Kadang terpikir, berapa banyak buku yang mereka bawa.

 

“Tasnya pas sekali. Muat semua buku Bagas. Anak SD sekarang bukunya banyak betul,” komentar Ayah saat saya mengirimkan tas sebagai hadiah full puasa untuk my brother. Padahal tas itu sama persis dengan yang dipakai si doi setiap hari ke kantor. Saya langsung menelan ludah. Sebanyak itukah buku yang harus dibawa setiap hari?

 

Belum lagi bila ditambah les mata pelajaran. Hah? Setiap hari hanya belajar itu-itu saja? Buat saya, anak lebih baik les atau kursus untuk menambah ketrampilan lainnya. Contohnya bahasa Jepang, Perancis, balet, biola, melukis, dan sejenisnya. Wong di sekolah sudah dapat fisika, buat apa pulang sekolah les fisika lagi.

 

Saya juga merasa miris ketika beberapa SD mensyaratkan baca tulis sebagai syarat masuk. Bahkan psikotest. What anak SD disuruh psikotes? Ya, saya tahu kadarnya untuk anak SD. Tapi bagi saya, itu membebani mental si anak. Jadi ingat seorang pemilik sekolah di Cibubur mengatakan, “Belum bisa baca tulis boleh kok sekolah di sini. Kan tujuannya sekolah untuk diajari. Kalau sudah bisa, buat apa sekolah.” Hmmm… like this.

Saya pun terpikir untuk menyekolahkan anak dengan metode homeschooling. Awalnya si doi kurang setuju. Khawatir nanti anak kurang bergaul. Mirip lah dengan pemikiran banyak orang tentang homeschooling.

 

“Homeschooling itu buat anak-anak yang malas sekolah.”

 

“Kayak artis aja enggak sempat sekolah.”

 

“Gimana nanti bergaulnya. Kalau sekolah umum kan anak bisa ketemu banyak teman.”

 

“Memang enggak bisa nangkap pelajaran di sekolah ya makanya homeschooling?”

 

Ah ya. Dulu saya pun berpikir begitu. Tapi pemikiran saya runtuh ketika membaca blog yang membahas tentang homeschooling Kak Seto. Saya langsung meluncur ke websitenya dan menggali banyak informasi. Ditambah lagi membaca buku Ayah Edy Menjawab.

 

Homeschooling telah dipakai bahkan pada era Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison, Socrates, Ibnu Sina, dan Al Kindi.

 

See. Para penemu dan pemikir hebat itu homeschooling. Di sekolah lazim, mereka dianggap bodoh dan dungu.

Setelah saya baca-baca lagi, ternyata homeschooling tidak melulu belajar di rumah. Ada metode komunitas. Di sini para murid berkumpul untuk belajar bersama. Metode komunitas inilah yang saya nilai pas. Anak boleh memilih pelajaran yang disuka, plus belajar bersama teman-temannya. Dan setiap hari bisa berganti teman. Tempat belajarnya pun tergantung kesepakatan komunitas. Misalkan ingin belajar about fauna, langsung cabut ke Taman Safari. Mau mengupas tuntas tumbuhan, segera meluncur ke Kebun Raya. Wow! That sounds enjoyable.

 

Saat saya sampaikan ke si doi, tampaknya sih agak-agak sepakat dengan homeschooling model begini. Senangnya lagi, di Homeschooling Kak Seto (HSKS) tidak mensyaratkan baca tulis di pendaftaran. Mereka pun menyarankan agar memilih PAUD, Pre School, atau TK yang full bermain. Makanya setiap saya melihat spanduk PAUD yang memuat kurikulum baca tulis, langsung saya delete dari daftar pencarian sekolah.

 

Bagi saya, setiap anak memiliki keunikan. Dan sekarang ini, sekolah yang cocok untuk menggali keunikan anak adalah homeschooling. Saya tidak akan memaksa anak belajar pelajaran yang tidak disukainya. Misalkan anak saya ingin menjadi penulis hebat. Apakah ia harus belajar matematika sampai njelimet? Atau menghafal setiap ruas tulang vertebrata? Belajar matematika tetap. Namun seperlunya saja. Alias basicnya menguasai, saya rasa sudah cukup.

 

Lalu bagaimana jika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi? Apakah ijazahnya diakui? Tenang. Anak-anak homeschooling tetap bisa UAN. Untuk materi tinggal ikut bimbel. Materi UAN biasanya dari tahun ke tahun memiliki model yang sama. Bahkan di beberapa buku panduan diajarkan rumus ringkasnya. Nah lho, di SMP dan SMU belajar rumus sampai keriting tahunya pas UAN cukup pakai rumus praktis.

 

Catatan kecil:

Hanya sekedar unek-unek tentang sekolah untuk anak-anak saya. Just for my children. Tulisan ini bukan berarti kampanye homeschooling atau menjelek-jelekkan sekolah di Indonesia. Apapun pilihan kita sebagai orang tua, saya yakin itulah yang terbaik. Dan saya sangat menghargainya.

One thought on “Think of Homeschooling

  1. memang sebelum memilih sebaiknya kita banyak2 cari info dulu.. sy juga sempet terpikir HS.. Pertimbangannya sp 2 tahunan sy cari info.. Bahkan sy sp bikin blog khusus utk HS (http://ke2naischool.blogspot.com)..

    Walopun dg bbrp pertimbangan akhirnya sy memilih utk sekolah formal.. Tp gak menutup kemungkinan kalo suatu saat bisa saja sy kembali terpikir utk HS. Krn emang bagus juga kok HS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ six = 12