Tong Sampah

Gambar dari sini

Sebagai seorang ‘penjaga warung’ di sebuah bank syariah, saya selalu menjadi most wanted. Orang pertama yang dicari-cari nasabah. Semua keluhan, ditumpahkan kepada CS. Walaupun terkadang persoalannya tidak berhubungan dengan CS.

“Mbak, harusnya nih M*am*lat punya tabungan pendidikan. Masa sih bank syariah nggak concern sama pendidikan anak.”

Ya elah usul aja sendiri sama direksinya *dalam hati.

“Mbak, kok pinjam uang buat usaha musti pakai akta notaris segala. Saya kan cuma jualan beras. Mestinya kan bank syariah peduli sama pedagang kecil.”

Haduh… ini kan bank. Mana bisa suka-suka pinjam uang *masih dalam hati.

Lebih gokil lagi ketika ada nasabah yang minta dihitungkan pembagian hasil jual tanah warisan.

“Mbak, Mbak. Tolong dong. Saya baru jual tanah warisan nih. Mau dibagi-bagi. Tolong itungin ya.”

Alamak!

Tapi, seaneh apapun permintaan nasabah, saya hanya boleh senyum. Dan sebisa mungkin menjawab keluhan mereka. Bahkan tak jarang juga saya kena semprot nasabah. Sebenarnya sih, menurut saya, mereka itu marah sama banknya. Tapi kan nggak semua nasabah punya akses ke para atasan. So, yang di depan mata, aka CS atau ‘penjaga warung’, jadi sasaran empuk untuk diomel-omeli.

“CS itu ibarat tong sampah,” kata seorang teman. Dan saya sepakat sekali.

Jujur, sebenarnya pekerjaan jadi penjaga warung itu berat lho. Hati ngedumel, tapi harus tetap senyum dan ramah. Kadang bikin sakit kepala.

“Kalau jadi CS musti sedia panadol biar nggak pusing,” pesan Bu Bos.

Haduh, Bu Bos. Minum panadol malah bikin tambah sakit. Biasanya untuk menghilangkan stress, begitu jam tutup kas, saya langsung tarik dua kursi. Dan tidur… zzz… zzz… zzz… *emak pelor.

Intinya sih menghadapi nasabah kudu sabar. Ya anggap saja latihan kalau nanti udah jadi pengusaha *cieeehhh. Harus siap mendengarkan complain dari customer. Let’s rock, mak. Yeaahhhh….

4 thoughts on “Tong Sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 + seven =