Tour de Raja Ampat [1]: Rencana

Senja di Tembok Berlin

Senja di Tembok Berlin

Hampir tiga tahun usia pernikahan kami. Dan kanjeng romo belum pernah sama sekali sowan ke Sorong. Ya memang sih tiga tahun lagi, ayah dan ibu pensiun. Terus pulang ke Delanggu. Tapi masa sekali aja nggak menengok Sorong.

“Kak, ke Sorong yuk lebaran. Ntar aku ambil cuti panjang,” ajak saya.

Ternyata kanjeng romo setuju. Mungkin takut dibilang menantu durhaka *hahaha. Intinya pingin jalan-jalan juga. Mosok kalau plesiran menthok ke Lampung. Udah gitu cuma ngobok-ngobok Bandar Lampung. Mana katanya mau mengajak ke Krui atau Liwa. Ah janjimu palsu, Darl :p

Sebenarnya ada misi tersembunyi juga rencana ke Sorong ini. Yup, ke Raja Ampat. Tempat ini memang tujuan wisata paling bergengsi. Kayaknya keren kalau bisa plesiran ke sana. Terus mengumpulkan foto-foto narsis berlatar Raja Ampat. Siapa tahu juga kan fotonya bisa diuangkan #EmakMataDuitan.

Dulu waktu SMU pernah ke Misool diajak sahabat saya. Sayang waktu itu saya belum terjangkit penyakit narsis tingkat akut. Jadilah nggak ada foto-foto sama sekali. Boro-boro punya kamera DSLR. Kamera digital aja masih barang mewah. Handphone pun tipe jadul yang bisa buat melempar guk guk sampai pingsan. Hiks…. Ada sih yang bawa kamera. Tapi kameranya pakai rol film. Kok rasanya nggak tega mau minta foto. Takut rol filmnya habis.

Nah, mumpung ayah masih bisa diajak kongkalingkong gratisan ke sono. Mari kita manfaatkan. Akhirnya saya dan kanjeng romo membeli tiket untuk bulan Agustus 2013 di bulan Desember 2012. Wew! Lebaran kapan, beli tiketnya kapan. Asumsi saya. Tiket lebaran pasti mahal. Daripada kehabisan. Ya kan, cyn….

Namun sebelum membeli tiket, saya sudah memberi kode-kode untuk bu bos. Saya bilang ingin ambil cuti panjang saat lebaran. And she said OK. Jadi langsung beli deh tuh tiket.

Lima bulan sebelum lebaran, saya tidak cuti atau izin sama sekali. Harus rajin masuk. Saya juga berusaha untuk tetap sehat. Padahal waktu itu ‘warung’ sedang ganti sistem. Terbayang dong ya ribetnya. Sabtu-Minggu masuk. Hampir setiap hari pulang malam. Nyaris tidak bisa sarapan bahkan makan siang. Stres karena nggak bisa pumping ASI dengan tenang. Dan satu-persatu rekan kerja saya, tumbang. Alhamdulillah saya kuat demi mudik ke Sorong. Kuncinya, kalau udah stres atau badan nggak enak, langsung tuh beli makanan yang enak-enak. Biarin deh kantong jebol. Asal sehat.

“Alah alasan aja biar sehat. Emang lu doyan makan,” komentar teman saya.

Hihihi… iya sih. Buat saya, hidup itu buat makan. Hidup makan! Nyam… nyam….

Namun menjelang detik-detik pengajuan cuti secara resmi, bu bos keberatan saya mengambil cuti sebelum dan setelah lebaran. Alasannya nanti teman-teman yang lain nggak bisa merasakan cuti dong. Tapi setelah mengeluarkan rayuan maut, bu bos setuju. Kebetulan teman-teman ‘penjaga warung’ lainnya belum boleh cuti.

“Ibu mau minta oleh-oleh apa?” Oleh-oleh jadi senjata rayuan.

“Emang kamu mau belikan saya apa? Saya nggak suka makanan,” kata si bu bos.

Haduh… Oleh-oleh apa ya? Masalahnya bu bos ini tahu barang yang mahal dan berkelas. Glek!

Nah, beberapa hari kemudian ketika sedang di kereta, bapake telepon. Lalu saya cerita lah tentang bu bos.

“Ayah punya simpanan mutiara dari Raja Ampat banyak tuh. Ambil aja satu buat bos kamu,” tawar bapake.

Yeay! Asyik! Bisa kasih oleh-oleh mahal tanpa keluar duit #EMakPenyukaGratisan. Dan rencana pun berjalan mulus. Proposal cuti disetujui. Huft… saya pun menarik napas lega. Akhirnya… pulang!

 

Regards,

tanda tangan astri

081519254080 (SMS/WA/LINE)

Facebook | Twitter | Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 × five =