Tour de Raja Ampat [2]: Tragedi Tiket

Nyenyak di bandara Soeta

Nyenyak di bandara Soeta

Tanggal 1 Agustus saya resmi cuti. Hari itu saya gunakan untuk packing dan bersih-bersih rumah. Ehm… ralat. Bukan saya. Tapi suami saya. Terus saya ngapain dong? Ih jaga anak lah *ngeles. Ya gimana ya. Percuma sih bantuin packing. Pasti ntar sama kanjeng romo dibongkar lagi.

“Bukan gitu cara packingnya. Nggak praktis. Sini Kakak aja biar muat banyak.” Nah kan?

Sorenya kami ke bakery di dekat RS Permata. Bagas, adik saya, nitip brownis. Alamak, kayak di sana nggak ada brownis aja. Terus usai beli brownis, pesan taksi buat ke bandara besok dini hari. Saya minta dijemput jam satu pagi.

Saya dan kanjeng romo benar-benar tidak tidur. Takut kebablasan. Jadilah selesai ifthor dan sholat tarawih, kami nonton TV. Lalu tepat jam dua malam, jarum jam berdentang dua belas kali. Pertanda saya akan kembali menjadi upik abu. Lho?

Kami pun bersiap. Genduk yang tidur pulas terpaksa saya ganggu untuk berganti baju. Marah? Of course. She is like me. Marah kalau lagi tidur diganggu.

“Ayo, Sayang. Kita berangkat,” kata saya.

Si Genduk dengan mata kriyip-kriyip membuka mata. Memang sengaja saya bangunkan. Supaya di pesawat nanti tidur. Nggak kebayang kalau sampai perjalanan jauh ini Genduk melek. Super aktifnya itu nggak nahan.

Tak lama kemudian, taksinya datang. Saya mengingatkan tiket kepada kanjeng romo.

“Tiket mana?” tanya saya.

“Ada di tas lah,” jawabnya santai.

Saya mengambil tiket pesawat dan melihat tanggal keberangkatan.

“Kak!” teriak saya syok.

“Apa?”

“Kok tiketnya tanggal satu.”

“Lha emang sekarang tanggal satu kan?”

“Sekarang tanggal dua!” tunjuk saya ke kalender.

Lemes!

***

“Jadi gimana, Mas. Masih ada nggak tiketnya?”

“Maaf, Ibu. Untuk pembelian tiket di bawah delapan jam harus ke merpati langsung.”

“Terus uang saya?”

“Iya hanya kembali sepuluh persen.”

Lemes lagi!

Kok bisa lupa? Kok saya ingatnya hari Jumat? Padahal bapake sudah mengingatkan dua kali.

“Katanya tanggal satu?”

“Dulu bilangnya tanggal satu berangkatnya?”

Ya Allah… Anehnya lagi. Kanjeng romo yang biasanya lebih perhatian dan detail kok ya nggak lihat juga. Mungkin dia kesal karena saya selalu tergantung sama dia. Mungkin dia ingin saya yang biasanya sembrono ini lebih aware. Ya sudahlah, kami tidak mau saling menyalahkan.

Sekarang gimana caranya bisa tetap berangkat. Masalahnya uang THR dan gaji udah buat beli kamera. Gaji kanjeng romo belum cair. We had no money.

Akhirnya terpaksa menelepon bapake. Dengan terbata saya ceritakan kedodolan saya. Pelan. Tanpa panik. Bapake tipe orang yang mudah marah. Jadi harus hati-hati sekali bilangnya. Alhamdulillah dapat pinjaman untuk beli tiket.

Sepanjang perjalan ke bandara, saya tidak tenang sama sekali. Genduk digendong yandanya. OK tiket bisa dibeli lagi. Tapi masalahnya, apakah tiket penerbangan ke Sorong masih ada? Saya pun terus berdoa. Saya hanya ingin pulang ke Sorong.

Sampai di bandara kurang lebih pukul dua lewat lima belas menit. Dan loket Merpati masih tutup Kata OB bandara, baru buka jam tiga atau setengah empat. Ah, semakin cemaslah saya. Apalagi melihat banyaknya orang yang seperti ingin beli tiket juga. Saya berdiri di depan loket. Menunggu tanpa mau bergeser. Dan merasa, mengapa jam begitu lambat berputar? *efek menunggu.

Loket dibuka tepat jam setengah empat. Bergegas saya minta untuk reservasi. Leganya karena tiket masih tersedia. Walau harus merogoh kocek tiga juta enam ratus ribu untuk kami bertiga. Ludes deh THR hiks. Saya dan kanjeng romo menganggap ini teguran. Entah teguran apa *efek banyak dosa 🙁 .

Tampang melas di depan loket

Tampang melas di depan loket

Setelah berada di ruang tunggu, barulah saya bisa makan dan minum dengan enaknya. Ternyata deg-degan itu bikin nggak nafsu makan ya. Wow ternyata Ay bisa nggak nafsu makan lho 😀 Dan ternyata lupa itu juga berefek bikin bangkrut. Jadi kawan, janganlah kau lupa *tunjuk diri sendiri.

Baru bisa menikmati makan sahur

Baru bisa menikmati makan sahur

Regards,

tanda tangan astri

081519254080 (SMS/WA/LINE)

Facebook | Twitter | Instagram

 

2 thoughts on “Tour de Raja Ampat [2]: Tragedi Tiket

  1. oalahhhh mba, kok bisa salah tgl nya -__-. ga kebayang deh reaksiku kalo gitu :D. Mana lumayan mahal ke sananya ya…. untungnya pesen salah tgl aku blm prnh, tapiiiiii, prnh tiket hrs hangus, krn aku salah perkirain waktu landing pesawat dengan pesawat berikutnya, pas ke Manila.. duhhh, itu tpksa hangus dan pesen tiket baru ..nyesek bgt ya..-__-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


5 + = thirteen