[TULISAN] Mengajarkan Keberanian dengan Berpetualang

[07 Mei 2013] Buah Hati, Leisure, Republika

Sebagai orang tua, saya dan suami memiliki banyak harapan pada putri kecil kami, Aleisha. Salah satunya adalah Aleisha tumbuh menjadi anak pemberani dan percaya diri. Karena itulah, sejak dalam kandungan, saya sudah mengajaknya berpetualang. Hamil tiga bulan, saya terpaksa loncat dari kereta ketika Prameks mogok di tengah sawah. Hamil lima bulan, saya motor-motoran dengan suami dari Bekasi Timur ke Kranggan. Hamil tujuh bulan, plesiran ke Lampung. Sebulan sebelum melahirkan, saya jalan-jalan ke Bandung.

Setelah lahir pun saya sudah membawa Aleisha jalan-jalan. Umur sebulan, saya mengajak Aleisha ke pusat elektronik untuk membeli freezer. Umur satu setengah bulan, buka puasa di sebuah mall besar di Bekasi. Umur dua bulan, berkunjung ke Mekar Sari dan Masjid Kubah Mas. Umur tiga bulan, silaturahim dengan saudara di Bogor.

Ketika Aleisha berumur empat bulan, saya dan suami mengajaknya menempuh perjalanan jauh. Pulang ke Lampung, kampong halaman suami. Bukan dengan pesawat, mobil pribadi, atau bus super executive. Tapi ngeteng. Yup, kami mengajak Aleisha mudik ala backpaker. Itu berarti kami harus berganti kendaraan lima kali. Angkot Jatimulya – Terminal Bekasi, Bus Bekasi-Merak, Kapal Ro-Ro, Bus Bakauheni-Rajabasa (turun di Jalan Baru), dan terakhir angkot Jalan Baru-Way Lunik. Huft… kalau dipikir repot juga ya. Sempat khawatir apakah Aleisha akan baik-baik saja selama perjalanan?

Saya pun teringat buku Hypnoparenting yang pernah saya baca. Supaya seorang anak mau menuruti orang tuanya, dapat diterapkan metode hypnoparenting. Selama beberapa hari, orang tua mengucapkan kata-kata secara berulang. Lalu saya mencoba mempraktekkannya kepada Aleisha. Seminggu sebelum berangkat, saya selalu mengajaknya bicara.

“Nduk, hari Rabu kita ke rumah Eyang ya. Kita naik bus besar. Terus naik kapal gede. Yang sehat ya, Nduk. Anteng. Kuat. Anak Bunda hebat.”

Dan sehari menjelang keberangkatan, suami meminta Aleisha tidur lebih cepat. Kebetulan hari itu saya pulang agak malam karena ada meeting di kantor.

“Besok kita jalan-jalan naik bus sama kapal. Maghrib bobo ya. Biar bisa bangun pagi.”

Ah, memang anak pintar. Aleisha langsung memejamkan mata begitu yandanya menyuruh tidur. Dan esoknya, ia justru yang membangunkan kami pukul empat pagi.

Rasa khawatir kembali terbersit saat keberangkatan. Tapi saya kembali menguatkan diri. Nyatanya, Aleisha tampak riang sepanjang perjalanan. Dia tidak mau duduk diam. Selalu meminta diberdirikan untuk melihat pemandangan di luar. Memang sejak lahir saya suka mengelus kakinya.

“Ini kaki petualang, Nduk. Nanti anak Bunda yang pintar ini akan berpetualang ke seluruh dunia.”

Mungkin karena itulah Aleisha senang diajak jalan-jalan. Bahkan semua orang yang di dekatnya selalu disapa dengan ocehannya. Dia akan tertawa terkekeh-kekeh bila ada pengamen di dekatnya. Kalau ketemu sesama anak kecil, dia ingin mendekati dan mengajak ngobrol.

Sejak episode mudik ngeteng ke Lampung, saya sering mengajak Aleisha jalan-jalan ala backpaker. Naik motor, angkot, bus, atau commuter line. Jarang sekali saya mengajaknya naik taksi. Dan sekarang di usia sepuluh bulan, Aleisha tidak pernah takut bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Saya pun akan terus mengajaknya berpetualang. Insya Allah saat usianya empat belas bulan, saya, suami, dan Aleisha akan jalan-jalan ke Raja Ampat, Papua Barat.

 

4 thoughts on “[TULISAN] Mengajarkan Keberanian dengan Berpetualang

  1. bagus bangett makk, kalo orang tuanya positif sudah pasti ya anaknya ikut positif ^^
    saya pengen bangett bisa backpackeran sama anak, tapi susah suami over protektif dan kurang suka repot kalo di jalan hehe

Leave a Reply to Shinta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 − = three