Tumbuhlah Menjadi Anak yang Penuh Empati

Saat NHW #3 Kelas Matrikulasi, kami diminta untuk menuliskan potensi unggul anak-anak. Tapi waktu itu saya nggak mengerjakan. Karena satu rumah sedang sakit. Mulai dari Aldebaran, lalu menulari yandanya, bersambung ke Aleisha, dan terakhir saya ikut terserang flu. Duh… namanya ibu-ibu ya. Sakit pun nggak bisa istirahat. Apalagi anak-anak juga sakit. Nemplok aja sama emaknya.

Tentang potensi unggul anak, saya yakin setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Begitu juga Aleisha. Meski kadang tingkahnya nyebelin. Eiimm… anaknya yang nyebelin apa emaknya yang kurang sabar :p Namun ada satu sifat baik Aleisha yang baru muncul dan membuat saya takjub sekaligus terharu.

Jadi ceritanya kemarin sore, seperti biasa Aleisha main di luar bersama teman-temannya. Sebagai mamak parno, saya ikut menemani dan mengawasi di luar. Sekalian mengajak main Aldebaran yang lagi senang-senangnya berlarian di jalan. Ketika saya sedang mengajak Aldebaran berjalan mengelilingi bundaran perumahan, tiba-tiba ada seorang anak perempuan menghampiri. Usianya mungkin sekitar 2 tahunan. Dia mendekati dan mengajak Aldebaran bermain sambil teriak-teriak, “Dedek… dedek….”

Reflek saya celingukan mencari ibu atau pengasuh si anak. Masa sih dibiarkan main sendirian ke bundaran. Masalahnya kalau sore bundaran itu ramai lalu lalang kendaraan orang-orang yang pulang kerja. Saya nggak mungkin mengawasi banyak anak. Kok bisa banyak anak? Aleisha, Aldebaran, 2 anak tetangga yang emaknya masih di dalam rumah, terus ucluk-ucluk ketambahan bocah lagi. Nanti misal kenapa-kenapa repot saya. Tapi kok nggak ada ya yang mengawasi si anak ini main di bundaran. Malah dia mengikuti saya dan Aldebaran. Kemudian ketika Aleisha dan 2 temannya datang, gantian si anak ngintilin Aleisha. Ikut main sampai jalanan depan blok rumah saya. Lha piye iki? Ibunya ke mana? Rumahnya di mana juga saya nggak tahu. Masa nggak dicariin sih. Sampai tetangga bertanya, “Bunda Cica itu siapa?” Saya pun tak tahu 😀

Sampai akhirnya menjelang Maghrib, kami kebingungan. Saya dan tetangga mau mengajak anak-anak masuk. Tapi meninggalkan si bocah kok rasanya nggak tega. Meski bukan anak sendiri, parno juga kalau sampai diculik. Sedang si bocah ditanya nama dan rumahnya, nggak mau jawab. Saya pegang tangannya, maksudnya biar dia menunjukkan di mana rumahnya, malah tangan saya didorong-dorong.

Saya mencoba bertanya ke anak-anak lain yang lebih besar. Kebanyakan bilang nggak tahu ini anaknya siapa. Lha dalah piye jal. Ini emaknya ke mana. Kok anaknya nggak dicari sih. Apa jangan-jangan anak dibuang *hush toyor kepala. Masalahnya saya udah pingin pulang ke rumah karena Aldebaran belum mandi. Tadi lagi nyiapin makannya, udah keburu dibawa keluar sama tetangga. Ya udah main dulu deh. Ternyata ada satu anak, namanya Akmal, yang tahu tentang si adek kecil tapi kayak nggak yakin gitu.

“Kayaknya saudaranya ….” Dia menyebutkan nama anak yang saya nggak kenal. Namun budhe tetangga kenal. Lalu saya bermaksud mengantarkan si anak pulang. Karena menggendong Aldebaran, saya minta Aleisha menggandeng tangan si anak.

“Mbak, adeknya tolong digandeng ya. Kita anterin pulang yuk.”

Tapi si anak menolak sambil marah-marah. Mungkin masih ingin bermain. Lalu Aleisha memegang tangan saya.

“Bunda, adeknya nggak mau digandeng. Gimana dong nganterin pulangnya?” Wajahnya terlihat memelas.

Saya pun meminta Akmal untuk ke rumah saudaranya itu. “Akmal, bilangin mamanya dong suruh jemput. Kasihan nih udah pada mau pulang.”

Tapi kata emaknya biarin aja, nanti dijemput. Ealah… ini udah pada mau bubar, Bu. Nanti kalau anaknya diculik gimana. Kok bisa cuek begitu.

Aleisha kembali memegang tangan saya. “Bunda, adeknya kasihan. Ayo kita anterin pulang. Udah sepi nih.” Ya, memang kondisi bundaran sudah sepi. Tinggal saya, 2 tetangga, dan anak-anak kami. Nah kalau kami pulang, si bocah tinggal sendirian. Lalu saya terkejut. Ada genangan di sudut mata Aleisha. Ya Allah… anakku mbrambang. Ia terlihat sedih meninggalkan si adek kecil di bundaran.

“Astri, kamu samperin gih sono emaknya. Nggak pulang-pulang ntar kita,” kata budhe tetangga. Saya langsung menuju rumah ya tadi ditunjuk Akmal. Saya temui ibu si anak lewat pintu samping yang kebetulan terbuka. Saya sampaikan saja bahwa kami mau pulang. Di bundaran juga sudah sepi. Akhirnya si anak pun dijemput dan pulang. Ah leganya akhirnya selesai juga case-nya. Ternyata ada yang bahagia si adek kecil udah ketemu mamanya. Iya, dia adalah Aleisha. Wajahnya sumringah. Senyumnya lebar. “Bunda, Mbak Cica seneng adeknya udah ketemu mamanya.”

Ya Allah, sayang. Bunda terharu sore ini karena melihatmu begitu berempati. Selama ini Aleisha tipe anak yang cuek, suka iseng, dan kadang pelit sama temennya. Saya seperti menemukan mutiara di dasar lautan. Semoga Bunda bisa mendampingi kamu mengasah sifat baikmu ini ya, Nduk. Tumbuhlah menjadi anak yang penuh empati kepada sesama. Habis ini PR emaknya beli buku tentang anak-anak Palestina. Berharap empatinya bisa menumbuhkan sifat lainnya, yaitu kelembutan hati. Amiin….

 

Regards,

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − = zero